Senin, 24 Oktober 2011

Ganja Sebagai Sumber Energi Alternatif

I. PENDAHULUAN
Kata Pengantar
            Pembelajaran Ilmu Alamiah Dasar terutama diperguruan tinggi bertujuan untuk memampukan pembelajar menulis ilmiah untuk berbagai keperluan dalam berbagai konteks dengan tepat dan wajar. Oleh karena itu pembelajaran dipusatkan pada aktifitas yang mengharuskan pembelajar melatih kemampuan karya tulis ilmiahnya dengan baik dan benar.
            Tulisan ini disusun dan dibuat berdasarkan tugas karya tulis ilmiah yang ditugaskan oleh Ibu Erma Triwati Christina, dosen ilmu alamiah dasar Universitas Gunadarma, Indonesia.
            Tujuan utama dari artikel ini adalah untuk membagi dan sharing ilmu serta pengetahuan ilmu alamiah dasar utamanya mengenai “Ganja Sebagai Sumber Energi Alternatif”, yang dielaborasi dan dikolaborasikan oleh penulis berdasarkan dari berbagai sumber yang ada.
            Akhirnya, semoga tulisan ini ada manfaatnya dan dapat menjadi referensi atau ilmu yang dapat diterima dan dipergunakan bagi pembaca. Kritik dan saran pembaca akan sangat penulis hargai.
                                                        
                                                                                                         Bogor, Oktober 2011


                                                                                                                        Penulis



II. Ganja Sebagai Sumber Energi Alternatif
Indonesia merupakan salah satu negara pemilik hutan hujan tropis (rainforest) terbesar di dunia. Beragam jenis tanaman yang berpotensi untuk diolah menjadi biofuel, tumbuh berkembang di negara ini. Selain kelapa sawit dan tebu yang sudah lazim dijadikan biofuel ada satu jenis tanaman lain di Indonesia yang berpotensi untuk diolah menjadi bahan bakar, yaitu ganja atau yang dikenal juga sebagai cannabis, marijuana, hemp atau hasish. Walaupun bukan tanaman asli Indonesia, ganja dapat tumbuh dengan baik di hampir seluruh wilayah perbukitan di Aceh. Kualitas ganja Aceh pun sangat terkenal di dunia. Sayangnya, ganja diasosiasikan dengan tanaman yang dapat dihisap daunnya dan membuat mabuk penghisapnya. ganja dimasukkan ke dalam kategori narkotika dan penggunaannya dilarang di banyak negara di dunia, termasuk di Indonesia.

Padahal, dalam beberapa dekade terakhir, banyak peneliti di dunia yang telah mengembangkan penelitian tentang pengolahan ganja menjadi bahan bakar. Ayhan Demirbas, pakar energi dari Turki, dalam bukunya, Green Energy and Technology-Biofuels: Securing the Planet’s Future Energy Needs, memasukkan ganja ke dalam daftar oil species for biofuel production. Ia mengungkapkan bahwa senyawa organik yang terkandung di dalam tanaman ganja dapat digunakan untuk memproduksi biodiesel.

Peneliti lain, Claus Brodersen, Klaus Drescher dan Kevin McNamara, dalam bukunya Economics of Sustainable Energy in Agriculture mengungkapkan bahwa ganja merupakan salah satu tanaman penghasil biomass energy. Biomassa dapat dikonversi menjadi metana, metanol, atau bensin yang biayanya jauh lebih kecil dibandingkan dari biaya saat ini untuk bahan bakar minyak, batu bara, atau energi nuklir.

kemudian Michael Starks, dalam bukunya Marijuana Chemistry: Genetics, Processing and Potency, menerangkan dengan jelas senyawa organik yang terkandung dalam setiap bagian tanaman ganja. Salah satu bagian tanaman ganja yang berpotensi menghasilkan minyak adalah batang tanamannya.

Menurut para ilmuwan di University of Connecticut, Amerika Serikat, cannabis sativa --nama latin ganja-- yang selama ini dianggap sebagai tanaman ilegal ternyata memiliki karakteristik yang menjadikannya layak sebagai bahan baku biodiesel.

Hal tersebut terbukti pada saat uji coba laboratorium yang dilakukan oleh mereka. Efisiensi konversinya mencapai 97% dan jika dibandingkan dengan biodiesel lain yang ada di pasaran saat ini maka biodiesel ganja bisa digunakan pada suhu lebih rendah. Selain itu tanaman tersebut mampu tumbuh di tanah yang tidak subur sehingga tidak mengganggu lahan produktif untuk tanaman pangan.

Ganja telah dikenal lama sebagai tanaman yang memiliki kemampuan untuk tumbuhan liar dan tidak memerlukan perawatan khusus. Orang sudah sejak lama memanfaatkan tanaman rami --atau disebut industrial hemp-- tersebut untuk berbagai keperluan industri dan makanan. Bijinya yang seringkali dibuang setelah tanaman rami untuk industri tersebut dipanen, menurut Richard Parnas --profesor Teknik Kimia, Bahan dan Biomolekuler di University of Connecticut yang memimpin tim ilmuan itu--, memiliki kandungan minyak nabati yang berpotensi sebagai bahan bakar. Meski tanaman tersebut merupakan tanaman ilegal di banyak negara, tetapi menurut profesor Parnas ada perbedaan besar antara industrial hemp dengan ganja lainnya dalam satu keluarga cannabaceae. Ganja yang digunakan untuk industri hanya memiliki kurang dari satu persen zat kimia psychoactive di dalam bunganya, sedangkan jenis lainnya memiliki hingga 22 persen.
Gagasan untuk memanfaatkan ganja sebagai energi alternatif yang murah pengganti minyak dan gas bumi ini menarik karena ganja dapat diubah menjadi “biomassa” yang pada gilirannya diubah menjadi energi. “Biomassa dapat dikonversi menjadi metana, metanol, atau bensin yang biayanya jauh lebih kecil dibandingkan dari biaya saat ini untuk bahan bakar minyak, batu bara, atau energi nuklir,” kata Jack Herer, seorang aktivis ganja dan penulis buku “The Emperor Wears No Clothes.”

III. Kesimpulan
Pada saat ini, Indonesia sedang dilanda krisis energi. Kelangkaan dan ketidakstabilan harga BBM merupakan persoalan yang selalu dihadapi rakyat miskin di Indonesia. Persoalan ini juga dirasakan oleh negara-negara lain di dunia. Berkurangnya cadangan minyak bumi dunia merupakan salah satu penyebab.

Dalam situasi sulit seperti itu, pemerintah Indonesia harus mengambil langkah konkret yang lebih jelas tujuannya, yaitu menyejahterakan rakyat. Tidak hanya menaikkan dan menurunkan harga BBM secara politis sebagaimana yang dilakukan oleh pemerintahan saat ini. Kebijakan politis seperti itu tidak akan menyelesaikan persoalan bangsa.

sudah saatnya pemerintah Indonesia mengembangkan teknologi bahan bakar alternatif. Harapannya, ketergantungan Indonesia terhadap minyak bumi dan batubara dapat teratasi.

bahan bakar bio seharusnya tidak berasal dari bahan pangan ataupun tanaman non pangan yang hanya mampu tumbuh optimal di lahan produktif. Jika demikian halnya maka ganja menjadi pilihan terbaik dibandingkan tanaman lainnya. Karena karakteristik pertumbuhan tanaman ganja dapat tumbuh di hampir semua iklim atau kondisi tanah di bumi, bahkan di wilayah yang kering.

Kalau Setiap setengah hektar lahan ganja dapat menghasilkan 1.000 galon metanol. Bahan bakar dari ganja, maka hanya diperlukan enam persen (6%) dari seluruh wilayah pertanian di benua Amerika untuk memenuhi kebutuhan biomassa dari tanaman ganja yang dapat digunakan sebagai pengganti energi gas/minyak di Amerika dan ini dapat mengakhiri ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Jika ganja mempunyai potensi sebagai bahan bakar bio, maka alih-alih menggunakannya untuk ''menerbangkan'' seseorang, tanaman tersebut akan memberikan manfaat lebih jika digunakan untuk ''menerbangkan'' mobil diesel.

IV. Daftar Pustaka
  • Demirbas Ayhan, “Green Energy and Technology-Biofuels: Securing the Planet’s Future Energy Needs”, Turki
  • Claus Brodersen, Klaus Drescher dan Kevin McNamara, “Economics of Sustainable Energy in Agriculture”, Amerika
  • Starks Michael, “Marijuana Chemistry: Genetics, Processing and Potency”
  • http://www.globalhemp.com/  


Nama : Galuh Adhitia Putra
Npm : 53211000
Kelas : 1DF01


Nama : Billy Clinton Andira
Npm : 59211383
Kelas : 1DF01

    Jumat, 21 Oktober 2011

    Pencemaran Air (Laut) karena Limbah Industri Minyak

    I. PENDAHULUAN
    Kata Pengantar
              Pembelajaran Ilmu Alamiah Dasar terutama diperguruan tinggi bertujuan untuk memampukan pembelajar menulis ilmiah untuk berbagai keperluan dalam berbagai konteks dengan tepat dan wajar. Oleh karena itu pembelajaran dipusatkan pada aktifitas yang mengharuskan pembelajar melatih kemampuan karya tulis ilmiahnya dengan baik dan benar.
              Tulisan ini disusun dan dibuat berdasarkan tugas karya tulis ilmiah yang ditugaskan oleh Ibu Erma Triwati Christina, dosen ilmu lamiah dasar Universitas Gunadarma Indonesia.
              Tujuan utama dari artikel ini adalah untuk membagi dan sharing ilmu serta pengetahuan ilmu alamiah dasar utamanya mengenai “ Pencemaran Air (Laut) karena Limbah Industri Minyak”, yang dielaborasi dan dikolaborasikan oleh penulis berdasarkan dari berbagai sumber yang ada.
              Akhirnya, semoga tulisan ini ada manfaatnya dan dapat menjadi referensi atau ilmu yang dapat diterima dan dipergunakan bagi pembaca. Kritik dan saran pembaca akan sangat penulis hargai.
                                                   
                                                                                            Bogor, Oktober 2011


                                                                                                        Penulis



    II. Pencemaran Air (Laut) karena Limbah Industri Minyak

    Limbah minyak adalah buangan yang berasal dari hasil eksplorasi produksi minyak, pemeliharaan fasilitas produksi, fasilitas penyimpanan, pemrosesan, dan tangki penyimpanan minyak pada kapal laut. Limbah minyak bersifat mudah meledak, mudah terbakar, bersifat reaktif, beracun, menyebabkan infeksi, dan bersifat korosif. Limbah minyak merupakan bahan berbahaya dan beracun (B3), karena sifatnya, konsentrasi maupun jumlahnya dapat mencemarkan dan membahayakan lingkungan hidup, serta kelangsungan hidup manusia dan mahluk hidup lainnya.



    Pada umumnya, pengeboran minyak bumi di laut menyebabkan terjadinya peledakan (blow aut) di sumur minyak. Ledakan ini mengakibatkan semburan minyak ke lokasi sekitar laut, sehingga menimbulkan pencemaran. Contohnya, ledakan anjungan minyak yang terjadi di teluk meksiko sekitar 80 kilometer dari Pantai Louisiana pada 22 April 2010. Pencemaran laut yang diakibatkan oleh pengeboran minyak di lepas pantai itu dikelola perusahaan minyak British Petroleum (BP). Ledakan itu memompa minyak mentah 8.000 barel atau 336.000 galon minyak ke perairan di sekitarnya.



    Ketika minyak masuk ke lingkungan laut, maka minyak tersebut dengan segera akan mengalami perubahan secara fisik dan kimia. Diantara proses tersebut adalah membentuk lapisan (slick formation), menyebar (dissolution), menguap (evaporation), polimerasi (polymerization), emulsifikasi (emulsification), emulsi air dalam minyak ( water in oil emulsions ), emulsi minyak dalam air (oil in water emulsions), foto oksida, biodegradasi mikorba, sedimentasi, dicerna oleh plankton dan bentukan gumpalan.

    Hampir semua tumpahan minyak di lingkungan laut dapat dengan segera membentuk sebuah lapisan tipis di permukaan. Hal ini dikarenakan minyak tersebut digerakkan oleh pergerakan angin, gelombang dan arus, selain gaya gravitasi dan tegangan permukaan. Beberapa hidrokarbon minyak bersifat mudah menguap, dan cepat menguap. Proses penyebaran minyak akan menyebarkan lapisan menjadi tipis serta tingkat penguapan meningkat.

    Minyak tidak dapat larut di dalam air, melainkan akan mengapung di atas permukaan air, bahan buangan cairan berminyak yang di buang ke air lingkungan akan mengapung menutupi permukaan air. Kalau bahan buangan cairan berminyak mengandung senyawa yang volatile maka akan terjadi penguapan dan luar permukaan minyak yang menutupi permukaan air akan menyusut. Penyusutan luas permukaan ini tergantung pada jenis minyaknya dan waktu lapisan minyak yang menutupi permukaan air dapat juga terdegradasi oleh mikroorganisme tertentu, namun memerlukan waktu yang cukup lama.

    Lapisan minyak di permukaan air lingkungan akan mengganggu kehidupan organisme dalam air. Hal ini disebabkan oleh Lapisan minyak pada permukaan air akan menghalangi difusi oksigen dari udara ke dalam air sehingga jumlah oksigen yang terlarut di dalam air menjadi berkurang. Kandungan oksigen yang menurun akan mengganggu kehidupan hewan air. Adanya lapisan minyak pada permukaan air juga akan menghalangi masuknya sinar matahari ke dalam air sehingga fotosintesis oleh tanaman air tidak dapat berlangsung. Akibatnya, oksigen yang seharusnya dihasilkan pada proses fotosintesis tersebut tidak terjadi. Kandungan oksigen dalam air jadi semakin menurun. Tidak hanya hewan air saja yang terganggu akibat adanya lapisan minyak pada permukaan air tersebut, tetapi burung air pun ikut terganggu karena bulunya jadi lengket, tidak bisa mengembang lagi terkena minyak.

    Selain dari pada itu, air yang telah tercemar oleh minyak juga tidak dapat dikonsumsi oleh manusia karena seringkali dalam cairan yang berminyak terdapat juga zat-zat yang beracun, seperti senyawa benzene, senyawa toluene dan lain sebagainya.


    III. Akibat yang ditimbulkan

    1. Pertumbuhan fitoplankton laut akan terhambat akibat keberadaan senyawa beracun dalam komponen minyak bumi, juga senyawa beracun yang terbentuk dari proses biodegradasi. Jika jumlah fitoplankton menurun, maka populasi ikan, udang, dan kerang juga akan menurun. Padahal hewan-hewan tersebut dibutuhkan manusia karena memiliki nilai ekonomi dan kandungan protein yang tinggi.

    2. Penurunan populasi alga dan protozoa akibat kontak dengan racun slick (lapisan minyak di permukaan air). Selain itu, terjadi kematian burung-burung laut. Hal ini dikarenakan slick membuat permukaan laut lebih tenang dan menarik burung untuk hinggap di atasnya ataupun menyelam mencari makanan. Saat kontak dengan minyak, terjadi peresapan minyak ke dalam bulu dan merusak sistem kekedapan air dan isolasi, sehingga burung akan kedinginan yang pada akhirnya mati.

    3. Rusaknya estetika pantai akibat bau dari material minyak. Residu berwarna gelap yang terdampar di pantai akan menutupi batuan, pasir, tumbuhan dan hewan. Gumpalan tar yang terbentuk dalam proses pelapukan minyak akan hanyut dan terdampar di pantai.

    4. Kerusakan biologis, bisa merupakan efek letal dan efek subletal. Efek letal yaitu reaksi yang terjadi saat zat-zat fisika dan kimia mengganggu proses sel ataupun subsel pada makhluk hidup hingga kemungkinan terjadinya kematian. Efek subletal yaitu mepengaruhi kerusakan fisiologis dan perilaku namun tidak mengakibatkan kematian secara langsung. Terumbu karang akan mengalami efek letal dan subletal dimana pemulihannya memakan waktu lama dikarenakan kompleksitas dari komunitasnya.

    IV. Tindakan pertama yang harus dilakukan

    Tindakan pertama yang dilakukan dalam mengatasi tumpahan minyak yaitu dengan melakukan pemantauan banyaknya minyak yang mencemari laut dan kondisi tumpahan. Ada 2 jenis pemantauan yang dilakukan yaitu dengan pengamatan secara visual dan penginderaan jauh (remote sensing).

    * Pengamatan secara visual
    Pengamatan secara visual merupakan pengamatan yang menggunakan pesawat. Teknik ini melibatkan banyak pengamat, sehingga laporan yang diberikan sangat bervariasi. Pada umumnya, pemantauan dengan teknik ini kurang dapat dipercaya. Sebagai contoh, pada tumpahan jenis minyak yang ringan akan mengalami penyebaran (spreading), sehingga menjadi lapisan sangat tipis di laut. Pada kondisi pencahayaan ideal akan terlihat warna terang. Namun, penampakan lapisan ini sangat bervariasi tergantung jumlah cahaya matahari, sudut pengamatan dan permukaan laut, sehingga laporannya tidak dapat dipercaya.

    * Pengamatan penginderaan jauh
    Metode penginderaan jarak jauh dilakukan dengan berbagai macam teknik, seperti Side-looking Airborne Radar (SLAR). SLAR dapat dioperasikan setiap waktu dan cuaca, sehingga menjangkau wilayah yang lebih luas dengan hasil penginderaan lebih detail. Namun,teknik ini hanya bisa mendeteksi lapisan minyak yang tebal. Teknik ini tidak bisa mendeteksi minyak yang berada dibawah air dalam kondisi laut yang tenang. Selain SLAR digunakan juga teknik Micowave Radiometer, Infrared-ultraviolet Line Scanner, dan Landsat Satellite System. Berbagai teknik ini digunakan untuk menghasilkan informasi yang cepat dan akurat

    V. Penanggulangan

    Ir. Ginting Perdana Dalam bukunya yang berjudul “Sistem Pengelolaan Lingkungan dan Limbah Industri”, menerangkan bahwa pada umumnya, teknik bioremediasi in-situ diaplikasikan pada lokasi tercemar ringan, lokasi yang tidak dapat dipindahkan, atau karakteristik kontaminan yang volatil. Sedangkan Bioremediasi ex-situ merupakan teknik bioremediasi dimana lahan atau air yang terkontaminasi diangkat, kemudian diolah dan diproses pada lahan khusus yang disiapkan untuk proses bioremediasi.
    Beberapa teknik penanggulangan tumpahan minyak diantaranya in-situ burning, penyisihan secara mekanis, bioremediasi, penggunaan sorbent, penggunaan bahan kimia dispersan, dan washing oil.
    • In-situ burning adalah pembakaran minyak pada permukaan laut, sehingga mengatasi kesulitan pemompaan minyak dari permukaan laut, penyimpanan dan pewadahan minyak serta air laut yang terasosiasi. Teknik ini membutuhkan booms (pembatas untuk mencegah penyebaran minyak) atau barrier yang tahan api. Namun, pada peristiwa tumpahan minyak dalam jumlah besar sulit untuk mengumpulkan minyak yang dibakar. Selain itu, penyebaran api sering tidak terkontrol.
    • Penyisihan minyak secara mekanis melalui 2 tahap, yaitu melokalisir tumpahan dengan menggunakan booms dan melakukan pemindahan minyak ke dalam wadah dengan menggunakan peralatan mekanis yang disebut skimmer.
    •  
    • Bioremediasi yaitu proses pendaurulangan seluruh material organik. Bakteri pengurai spesifik dapat diisolasi dengan menebarkannya pada daerah yang terkontaminasi. Selain itu, teknik bioremediasi dapat menambahkan nutrisi dan oksigen, sehingga mempercepat penurunan polutan.
    • Penggunaan sorbent dilakukan dengan menyisihkan minyak melalui mekanisme adsorpsi (penempelan minyak pada permukaan sorbent) dan absorpsi (penyerapan minyak ke dalam sorbent). Sorbent ini berfungsi mengubah fasa minyak dari cair menjadi padat, sehingga mudah dikumpulkan dan disisihkan. Sorbent harus memiliki karakteristik hidrofobik, oleofobik, mudah disebarkan di permukaan minyak, dapat diambil kembali dan digunakan ulang. Ada 3 jenis sorbent yaitu organik alami (kapas, jerami, rumput kering, serbuk gergaji), anorganik alami (lempung, vermiculite, pasir) dan sintetis (busa poliuretan, polietilen, polipropilen dan serat nilon). 
    • Dispersan kimiawi merupakan teknik memecah lapisan minyak menjadi tetesan kecil (droplet), sehingga mengurangi kemungkinan terperangkapnya hewan ke dalam tumpahan minyak. Dispersan kimiawi adalah bahan kimia dengan zat aktif yang disebut surfaktan.
    • Washing oil yaitu kegiatan membersihkan minyak dari pantai.
    VI. Kesimpulan

    Berbagai macam kegiatan industri dan teknologi yang ada saat ini apabila tidak di sertai dengan program pengelolaan air yang baik akan mengakibatkan kerusakan ekosistem yang ada dalam hal ini adalah air, baik secara langsung maupun tidak langsung. Bahan buangan dan air limbah yang berasal dari kegiatan industri adalah penyebab terjadinya pencemaran air.
    Kasus pencemaran air laut akibat dari pengeboran Indusri minyak ditengah laut, tumpahan minyak, kebocoran kapal tanker dan lain-lain. Sehingga dapat berpengaruh pada beberapa sector , diantaranya lingkungan pantai dan laut, ekosistem biota pantai dan laut, dan mengganggu aktivitas nelayan sehingga mempengaruhi kesejahteraan mereka. Pengaruh-pengaruh tersebut antara lain dapat mengubah karakteristik populasi spesies dan struktur ekologi komunitas laut, dapat mengganggu proses perkembangan dan pertumbuhan serta reproduksi organisme laut, bahkan dapat menimbulkan kematian pada organisme laut.

    VII. Daftar Pustaka


    Nama : Galuh Adhitia Putra
    NPM : 53211000
    Kelas : 1DF01

    Kamis, 29 September 2011

    Fenomena Alam Danau Toba

    PENDAHULUAN

                Pembelajaran Ilmu Alamiah Dasar terutama diperguruan tinggi bertujuan untuk memampukan pembelajar menulis ilmiah untuk berbagai keperluan dalam berbagai konteks dengan tepat dan wajar. Oleh karena itu pembelajaran dipusatkan pada aktifitas yang mengharuskan pembelajar melatih kemampuan karya tulis ilmiahnya dengan baik dan benar.
                Tulisan ini disusun dan dibuat berdasarkan tugas karya tulis ilmiah yang ditugaskan oleh Ibu Erma Triwati Christina, dosen ilmu lamiah dasar Universitas Gunadarma Indonesia.
                Tujuan utama dari artikel ini adalah untuk membagi dan sharing ilmu serta pengetahuan ilmu alamiah dasar utamanya mengenai “Fenomena Kejadian Alam” yang ditelisik dari berbagai sumber dan semuanya itu akan dielaborasi dan dikolaborasikan oleh penulis.
                Akhirnya, semoga tulisan ini ada manfaatnya dan dapat menjadi referensi atau ilmu yang dapat diterima dan dipergunakan bagi pembaca. Kritik dan saran pembaca akan sangat penulis hargai.
                                                            
                                                                                                             Bogor, 29 September 2011


                                                                                                                         Penulis









    I.      DEFINISI
    ·        Danau
    Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
     
    Danau Singkarak, di Sumatera Barat Indonesia
    Danau adalah sejumlah air (tawar atau asin) yang terakumulasi di suatu tempat yang cukup luas, yang dapat terjadi karena mencairnya gletser, aliran sungai, atau karena adanya mata air. Biasanya danau dapat dipakai sebagai sarana rekreasi, dan olahraga.
    Danau adalah cekungan besar di permukaan bumi yang digenangi oleh air bisa tawar ataupun asin yang seluruh cekungan tersebut dikelilingi oleh daratan.
    Kebanyakan danau adalah air tawar dan juga banyak berada di belahan bumi utara pada ketinggian yang lebih atas.
    Sebuah danau periglasial adalah danau yang di salah satunya terbentuk lapisan es, "ice cap" atau gletser, es ini menutupi aliran air keluar danau.
    Istilah danau juga digunakan untuk menggambarkan fenomena seperti Danau Eyre, di mana danau ini kering di banyak waktu dan hanya terisi pada saat musim hujan. Banyak danau adalah buatan dan sengaja dibangun untuk penyediaan tenaga listrik-hidro, rekreasi (berenang, selancar angin, dll), persediaan air, dll.
    Finlandia dikenal sebagai "Tanah Seribu Danau" dan Minnesota dikenal sebagai "Tanah Sepuluh Ribu Danau". Great Lakes di Amerika Utara juga memiliki asal dari zaman es. Sekitar 60% danau dunia terletak di Kanada; ini dikarenakan sistem pengaliran kacau yang mendominasi negara ini.
    Di bulan ada wilayah gelap berbasal, mirip mare bulan tetapi lebih kecil, yang disebut lacus (dari bahasa Latin yang berarti "danau"). Mereka diperkirakan oleh para astronom sebagai danau.
    Berdasarkan proses terjadinya, danau dibedakan :
    1. danau tektonik yaitu danau yang terbentuk akibat penurunan muka bumi karena pergeseran / patahan
    2. danau vulkanik yaitu danau yang terbentuk akibat aktivitas vulkanisme / gunung berapi
    3. danau tektovulkanik yaitu danau yang terbentuk akibat percampuran aktivitas tektonisme dan vulkanisme
    4. danau bendungan alami yaitu danau yang terbentuk akibat lembah sungai terbendung oleh aliran lava saat erupsi terjadi
    5. danau karst yaitu danau yang terbentuk akibat pelarutan tanah kapur
    6. danau glasial yaitu danau yang terbentuk akibat mencairnya es / keringnya daerah es yang kemudian terisi air
    7. danau buatan yaitu danau yang terbentuk akibat aktivitas manusia
    ·        Fenomena Alam
    Fenomena alam adalah peristiwa non-artifisial dalam pandangan fisika, dan kemudian tak diciptakan oleh manusia, meskipun dapat memengaruhi manusia (mis. bakteri, penuaan, bencana alam). Contoh umum dari fenomena alam termasuk letusan gunung berapi, cuaca, dan pembusukan.

    Sebagian besar fenomena alam tak berbahaya seperti hujan. Fenomena alam seperti letusan gunung berapi, tsunami dan tornado dianggap berbahaya dan dapat menimbulkan kematian.Fenomena adalah hal yang luar biasa dalam kehidupan di dunia dan dapat terjadi dengan tidak terduga dan tampak mustahil dalam pandangan manusia.

    II. SEJARAH TERBENTUKNYA DANAU TOBA


    Danau Toba adalah sebuah danau vulkanik dengan ukuran luas 100km x 30km di Sumatera Utara, Sumatera, Indonesia. Merupakan danau vulkanik terbesar yang ada di Asia tenggara umumnya dan di Indonesia khususnya, Di tengah danau ini terdapat sebuah pulau vulkanik bernama Pulau Samosir. Danau Toba merupakan primadona daerah tujuan wisata di Sumatera Utara selain Bukit Lawang dan Nias, menarik wisatawan domestik maupun mancanegara untuk berkunjung kedanau ini.

    proses terjadinya Danau Toba saat terjadi ledakan vulkanik sekitar 73.000-75.000 tahun yang lalu dan merupakan letusan supervolcano (gunung berapi super) yang paling anyar saat ini. Bill Rose beserta temannya Craig Chesner dari Michigan Technological University, memperkirakan bahwa materi-materi vulkanik yang dimuntahkan letusan gunung itu sebanyak 2800km3, dengan 800km3 batuan ignimbrit dan 2000km3 abu vulkanik yang diperkirakan tertiup angin ke barat selama 2 minggu. Debu vulkanik yang ditiup angin telah menyebar ke separuh bumi, dari cina sampai ke afrika selatan. Terjadinya letusan selama 1 minggu dan penyebaran debunya mencapai 10 KM diatas permukaan laut.

    peristiwa yang dahsyat ini menimbulkan beberapa kerugian, baik kerugian Sumber daya manusia (SDM) ataupun sumber daya alam (SDA). Seperti kematian massal dan pada beberapa spesies juga diikuti kepunahan. Menurut beberapa bukti DNA yang didapatkan menyebutkan bahwa letusan ini juga menyusutkan jumlah manusia sampai sekitar 60% dari jumlah populasi manusia bumi saat itu yaitu sekitar 60 juta manusia. Letusan itu juga ikut menyebabkan terjadinya zaman es, walaupun para ahli masih memperdebatkan soal itu.

    Setelah letusan tersebut, terbentuk kaldera yang kemudian terisi oleh air dan menjadi yang sekarang dikenal sebagai Danau Toba. Tekanan ke atas oleh magma yang belum keluar menyebabkan munculnya Pulau Samosir.
    Dr. Michael Petraglia bersama-sama dengan Tim peneliti multidisiplin internasional yang dipimpinnya, mengungkapkan dalam suatu konferensi pers di Oxford, Amerika Serikat bahwa telah ditemukan situs arkeologi baru yang cukup spektakuler oleh para ahli geologi di selatan dan utara India. Di situs itu terungkap bagaimana orang bertahan hidup, sebelum dan sesudah letusan gunung berapi (supervolcano) Toba pada 74.000 tahun yang lalu, dan bukti tentang adanya kehidupan di bawah timbunan abu Gunung Toba. Padahal sumber letusan berjarak 3.000 mil, dari sebaran abunya.
    Selama tujuh tahun, para ahli dari oxford University tersebut meneliti projek ekosistem di India, untuk mencari bukti adanya kehidupan dan peralatan hidup yang mereka tinggalkan di padang yang gundul. Daerah dengan luas ribuan hektare ini ternyata hanya sabana (padang rumput). Sementara tulang belulang hewan berserakan. Tim menyimpulkan, daerah yang cukup luas ini ternyata ditutupi debu dari letusan gunung berapi purba.
    Penyebaran debu gunung berapi itu sangat luas, ditemukan hampir di seluruh dunia. Berasal dari sebuah erupsi supervolcano purba, yaitu Gunung Toba. Dugaan mengarah ke Gunung Toba, karena ditemukan bukti bentuk molekul debu vulkanik yang sama di 2100 titik. Sejak kaldera kawah yang kini jadi danau Toba di Indonesia, hingga 3000 mil, dari sumber letusan. Bahkan yang cukup mengejutkan, ternyata penyebaran debu itu sampai terekam hingga Kutub Utara. Hal ini mengingatkan para ahli, betapa dahsyatnya letusan super gunung berapi Toba kala itu.

    III. KESIMPULAN
    Indonesia terbentang luas dari sabang hingga merauke, beribu pulau, beribu gunung, hamparan laut yang begitu luas dan kenikmatan alam yang tersedia di Indonesia begitu berlimpah, tidakkah kita sebagai warga Negara memanfaatkan, menberdayakan, menikmati dan menjaga semua keberlimpahan yang sudah kita peroleh ? maka untuk itu kita sebagai jiwa, sebagai bangsa, sebagai warga dan sebagai satu Indonesia haruslah memanfaatkan, memberdayakan, menikmati dan menjaga semua keberlimpahan yang diberikan oleh Tuhan dengan sebaik-baiknya. Sayangi negerimu cintai negerimu.

    Galuh Adhitia Putra
    1DF01 - D3 Manajemen Keuangan - 53211000

    Senin, 26 September 2011

    Asal Usul Manusia

    PENDAHULUAN

                Pembelajaran Ilmu Alamiah Dasar terutama diperguruan tinggi bertujuan untuk memampukan pembelajar menulis ilmiah untuk berbagai keperluan dalam berbagai konteks dengan tepat dan wajar. Oleh karena itu pembelajaran dipusatkan pada aktifitas yang mengharuskan pembelajar melatih kemampuan karya tulis ilmiahnya dengan baik dan benar.
                Tulisan ini disusun dan dibuat berdasarkan tugas karya tulis ilmiah yang ditugaskan oleh Ibu Erma Triwati Christina, dosen ilmu lamiah dasar Universitas Gunadarma Indonesia.
                Tujuan utama dari artikel ini adalah untuk membagi dan sharing ilmu serta pengetahuan ilmu alamiah dasar utamanya mengenai “Asal Usul Manusia” yang ditelisik dari sudut pandang Agama Islam, Umum dan Ilmiah yang semuanya itu dielaborasi dan dikolaborasikan oleh penulis berdasarkan dari berbagai sumber yang ada.
                Akhirnya, semoga tulisan ini ada manfaatnya dan dapat menjadi referensi atau ilmu yang dapat diterima dan dipergunakan bagi pembaca. Kritik dan saran pembaca akan sangat penulis hargai.
                                                            
                                                                                                             Bogor, 28 September 2011


                                                                                                                         Penulis






    1.  Manusia
    Pengertian Manusia
    a.  Manusia sebagai makhluk individu adalah hakikat manusia sebagai makhluk yang  mempunyai keinginan, kebutuhan dan perasaan yang berbeda dengan manusia yang lain.

    b. Manusia sebagai makhluk social adalah hakikat manusia yang harus hidup berdampingan dengan manusia yang lainnya, karena manusia tidak bisa hidup tanpa bantuan manusia yang lainnya.

    Definisi Manusia
       a. Secara Biologis :
    manusia diartikan sebagai hominid dari spesies Homo sapiens(bahasa latin untuk manusia), sebuah spesies primate bermamalia yang mempunyai kemampuan otak dan akal pikiran yang sangat tinggi
       b. Secara Agama :
    Dalam hal kerohanian, mereka dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bervariasi di mana, dalam agama, dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan ketuhanan atau makhluk hidup; dalam mitos, mereka juga seringkali dibandingkan dengan ras lain.
       c. Secara Antropologi Kebudayaan :
    Dalam antropologi kebudayaan, mereka dijelaskan berdasarkan penggunaan bahasanya, organisasi mereka dalam masyarakat majemuk serta perkembangan teknologinya, dan terutama berdasarkan kemampuannya untuk membentuk kelompok dan lembaga untuk dukungan satu sama lain serta pertolongan.
       
    Penggolongan Manusia Berdasarkan
    a. Jenis Kelaminnya
    Penggolongan manusia yang paling utama adalah berdasarkan jenis kelaminnya.       Secara alamiah, jenis kelamin seorang anak yang baru lahir entah laki-laki atau perempuan. Anak muda laki-laki dikenal sebagai putra dan laki-laki dewasa sebagai pria. Anak muda perempuan dikenal sebagai putri dan perempuan dewasa sebagai wanita.
        b. Usia
    Penggolongan lainnya adalah berdasarkan usia, mulai dari janin, bayi, balita, anak-anak, remaja, akil balik, pemuda/i, dewasa, dan (orang) tua.
        c. Ciri-Ciri Fisik
    berdasarkan ciri-ciri fisik (warna kulit, rambut, mata; bentuk hidung; tinggi badan)
        d. Afiliasi Sosial dan Politik
    afiliasi sosio-politik-agama (penganut agama/kepercayaan XYZ, warga negara XYZ, anggota partai XYZ) dan lain sebagainya.





    2. Asal Usul Manusia
             a. Sudut pandang Agama Islam
                ditelisik dari segi agama islam seperti yang terdapat dalam kandungan Al Qur’an surat Al Hajj ayat 5 yang Artinya adalah “Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah”. Dalam ayat dari surat tersebut Allah SWT secara terang menjelaskan proses terjadinya manusia dan kehidupan manusia.
                Manusia yang pertama kali turun ke muka bumi ialah Nabi Adam As dan Siti Hawa, mereka dikeluarkan oleh Allah SWT dari Surga karena melanggar larangan yang Allah SWT berikan kepada mereka atas tipu daya syaitan. Ketika mereka diturunkan ke Bumi di ujung yang satu dan ujung yang lainnya, pada akhirnya mereka bertemu dan selanjutnya mereka memiliki keturunan (anak), dan dari anak-anak mereka terus dan menerus memiliki keturunan dan bergenerasi sampai saat ini.
                Tak asing dan sudah sering kita dengar istilah “kesempurnaan hanya milik Allah SWT dan kekurangan hanyalah milik kita umat manusia”. Ada benarnya istilah tersebut karena setiap insan manusia yang ada di bumi ini tidaklah ada yang sempurna meskipun ia seorang Nabi.

    b. Sudut Pandang Ilmiah
                ditelisik dari segi ilmiah memang benar bahwa jika sel sperma laki-laki bertemu dengan Sel telur (ovum) perempuan didalam rahim maka akan membentuk benih manusia (janin) yang akan terkandung didalam rahim perempuan tersebut disebut dengan masa kehamilan, seperti yang dijelaskan oleh dr. Baksono Winardi, SpOG dalam websitenya http://www.kesehatanreproduksi.com “Proses kehamilan itu terjadi ketika sperma ( benih pria ) bertemu dengan sel telur ( benih wanita ), dan hal itu hanya bisa terjadi apabila hubungan kelamin dilakukan di sekitar masa subur.  Masa subur itu terjadi semenjak ovulasi ( keluarnya sel telur ) dari ovarium (  indung telur ) hingga akhir masa hidupnya ( kira kira 12-24 jam ). Sementara itu sel sperma yang masuk hingga tuba fallopii bisa bertahan 1 hingga  x 24 jam. Jadi hubungan seksual yang dilakukan 1- 2hari sebelum masa subur masih mungkin bisa terjadi kehamilan.Dengan demikian meskipun hanya sekali saja melakukan hubungan seks, bisa saja terjadi kehamilan kalau waktunya di sekitar masa ovulasi. Kapan dimulainya kehamilan ya semenjak bertemunya sel telur dengan sel sperma itu. Kehamilan ini sudah bisa di deteksi bila terjadi keterlambatan menstruasiseminggu. Perhitungan umur kehamilan dihitung sejak hari pertama haid yang terakhir (HPHT ). Artinya bila isteri anda telat menstruasi 1 minggu, maka usia kehamilannya ( kalau benar benar hamil ) adalah kira kira 5 minggu. Bahkan ketika sebenarnya belum waktu menstruasi ( tidak ada keterlambatan ) kalau sebelumnya terjadi  fertilisasi ( penempelan sperma pada sel telur ) maka pada saat itu sebenarnya sudah terjadi kehamilan”.

    c. Sudut Pandang Umum
                dari sudut pandang umum awal mula adanya manusia dijaman dahulu yang lebih dikenal dengan sebutan manusia purbakala. Manusia sudah bermetamorfosis dalam masa peradabannya  seperti dari bentuk tubuh, postur tubuh, pola pikir dan kebiasaan hidup. Seperti yang sudah kita ketahui secara umum bahwa dijaman peradaban manusia jaman dahulu kala, manusia itu mempunya bentuk dan postur tubuh yang besar-besar dan tinggi-tinggi serta pola pikir dan kebiasaan mereka yang “Primitive”, namun apa yang ada saat ini adalah bentuk tubuh dan postur tubuh manusia yang relative jauh lebih kecil dibanding dengan  manusia jaman dahulu, tetapi pola pikir dan kebiasaan hidup manusia jaman sekarang jauh lebih universal dan termodernisasi oleh kemajuan tekhnologi.
                Pemahaman-pemahaman yang seperti demikian, juga dihiasi oleh keteguhan dan kelestarian adat istiadat suatu wilayah, dapat kita ambil contoh suku Baduy pedalaman di Banten, yang hingga saat ini kehidupan mereka masih primitive dan jauh dari kemajuan peradaban tekhnologi, karena mereka masih exist mengutamakan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan pendahulu mereka.
                Pernahkah anda mendengar syair lagu “nenek moyangku seorang pelaut”? atau pernahkah anda mendengar istilah yang menyebutkan bahwa “nenek moyangku adalah monyet atau kera”? sesungguhnya apakah anda meyakini hal tersebut?
                Memang ada benarnya lagu “nenek moyangku seorang pelaut”, mengapa demikian? Karena ketika jaman dahulu pekerjaan utama manusia adalah berdagang, dan mereka berdagang mengarungi samudra-samudra demi menemukan peradaban kumpulan manusia yang ramai disuatu wilayah, sehingga pantas saja disebut pelaut.
                Namun istilah bahwa “nenek moyangku adalah monyet/kera”, maka semestinya dan seharusnya anda marah dan tidak setuju dengan istilah tersebut. Karena apa ? karena kita diberikan otak berkemampuan tinggi dan akal pikiran yang sehat oleh Tuhan, sedangkan monyet adalah binatang yang sudah jelas-jelas memiliki otak berkemampuan rendah dan tidak mempunyai akal pikiran yang sehat. Jadi kita umat manusia jangan mau disama-samakan dengan binatang.
                Jaman dahulu kala manusia hidup didunia ini begitu lama, bisa ratusan tahun bahkan ribuan tahun, namun saat ini manusia mempunyai batasan usia hidup didunia rata-rata usia 50-90 tahun saja, kenapa demikian ? karena gaya hidup manusia saat ini suka dengan segala hal yang instant, tidak seperti kebanyakan gaya hidup manusia jaman dahulu yang lebih suka alami dari kekayaan alam yang terkandung didunia ini. Sesungguhnya Yang alami itu lebih sehat bagi manusia.
                Pola pikir manusia semakin berkembang jaman demi jaman, seiring dengan perkembangan jaman itulah maka perkembangan dan kemajuan IPTEK pun semakin pesat, jaman dahulu mungkin tidak ada yang berpikir untuk membuat suatu jaringan sosial media yang dapat diakses oleh semua manusia didunia ini yang dapat terkoneksi satu sama lain, dapat diambil contoh Facebook, dengan adanya pemikiran, ide, gagasan, kreatifitas dan lain sebagainya, saat ini pertukaran informasi antar sesama manusia semakin mudah dan luas.

    3. Kesimpulan
                Kita umat manusia yang ada didunia ini patut selalu bersyukur bahwasanya kita masih bisa hidup didunia ini dengan kelebihan dan keterbatasannya, sebagai warga dunia yang baik harus memperhatikan dan menjaga keseimbangan alam semesta, karena keberlangsungan hidup manusia bergantung pada manusia itu sendiri sebagaimana dia mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan.

    Galuh Adhitia Putra
    1DF01 - D3 Manajemen Keuangan - 53211000