Kamis, 08 Maret 2012

Laporan Hasil Kunjungan Kerja Lapangan (KKL) 15 Februari 2012

·  Tahu 

Laporan Hasil
Kunjungan Kerja Lapangan (KKL)
15 Februari 2012

“Tahu Susu Lembang dan C59”



Oleh:
Galuh Adhitia Putra   - 53211000 -  (1DF01)










UNIVERSITAS GUNADARMA
KOTA DEPOK
2012



II. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pembelajaran Ilmu kewirausahaan terutama diperguruan tinggi bertujuan untuk memampukan pembelajar memahami dan mempelelajari ilmu berwirausaha untuk berbagai keperluan dalam berbagai konteks dengan tepat dan wajar. Oleh karena itu pembelajaran dipusatkan pada aktifitas yang mengharuskan pembelajar melatih kemampuan berwirausaha dengan baik dan benar.
            Tulisan ini disusun dan dibuat berdasarkan kegiatan kunjungan kerja lapangan (KKL) yang dilaksanakan oleh seluruh mahasiswa tingkat satu D3 Bisnis dan Kewirausahaan Universitas Gunadarma pada tanggal 15 februari 2012.

B. Tujuan
Tujuan utama dari laporan ini adalah untuk melaporkan segala aktifitas yang berkaitan dengan kegiatan kunjungan kerja lapangan (KKL), dan sebagai salah satu kewajiban bagi mahasiswa untuk membuat laporan tertulis. Semua informasi yang didapat dikolaborasikan oleh penulis berdasarkan dari berbagai sumber yang ada.

C. Jadwal Rincian Kegiatan
No.
Kegiatan
Tempat
waktu
keterangan
1.
Kumpul di kampus D, Depok
Kampus D
05.00-05.10

2.
Berangkat ke Bandung

05.15

3.
Tiba di Tahu Susu Lembang

10.30

4.
Kegiatan KKL
Tahu susu lembang
10.40-12.00

5.
Berangkat ke C59

12.05

6.
Tiba di C59

13.15

7.
Kegiatan KKL
C59
13.30-15.00

8.
Berangkat ke Bali Heaven

15.05

9.
Tiba di Bali Heaven

16.00

10.
Wisata belanja
Bali Heaven
16.05-18.00

11.
Berangkat ke sentra belanja dan oleh-oleh

18.05

12.
Tiba di sentra belanja dan oleh-oleh
Sadang, Purwakarta
19.10

13.
Wisata belanja dan oleh-oleh

19.15-19.45

14.
Berangkat kembali ke kampus D

19.50

15.
Tiba di kampus D, Depok
Kampus D
21.45




II. LAPORAN KKL
A. TAHU SUSU LEMBANG
  1. Profile/Sejarah
Dengan keindahan panorama alam daerah Lembang serta potensi market usaha yang cukup potensial membuat Lembang dipenuhi gedung-gedung megah dan berbagai obyek wisata tersebut menjadikan daerah Lembang dipenuhi gedung-gedung baik berupa hotel, villa, penginapan, dan tempat singgah yang asri nan indah.

Ya! Dengan melihat tren positif itu lah yang membuat Perry Tristianto Pada tahun 2006 memulai bisnisnya di dunia fashion yang saat itu sedang ‘booming’ ketika demam outlet distro dan clothing merajalela di Kota Bandung dan sekitarnya.

Seiring berjalannya waktu, Kang Perry nama panggilan akrabnya, mencoba untuk membuka dan merintis bisnis di bidang kuliner dan wisata belanja. Berbisnis di bidang kuliner dan wisata belanja pertama kali dengan mendirikan All About Strawberi, Rumah Sosis, The Rain’s, Bali Heaven, Kampung Bakso lalu Tahu Susu Lembang.

Merintis usaha tahu susu lembang di mulai kang Perry sekitar tahun 2008, hinngga kini gerai atau rumah produksi tahu susu lembang atau yang di kenal dengan POM tahu susu lembang sudah menjadi salah satu tempat tujuan utama para pelancong ibukota ketika berkunjung ke Lembang.
  1. Visi & Misi
Visi
o       Menciptakan variasi baru yang berbeda dengan tahu-tahu lainnya.
o       Melestarikan budaya indonesia agar tidak gengsi makan tahu.
Misi
o       Memberikan inovasi-inovasi terbaru setiap tahunnya.
o       Menciptakan rasa dan pelayanan yang lebih menarik.
  1. Lokasi
Rumah produksi Tahu susu lembang berada di jalan raya lembang no. 177 Lembang, Kota Bandung. Dengan menempati areal usaha lebih dari 2 hektar ditempat ini juga tersedia arena outbound, arena bermain, balai pertemuan, kebun strawberi, pasar oleh-oleh, parkir yang luas, dan berbagai fasilitas pendukung lainnya.
  1. Kapasitas Produksi
Rumah produksi Tahu Susu Lembang mampu memproduksi tahu susu sekitar 5 ribu hingga 20 ribu tahu susu dengan berbagai varian. Jika weekend atau hari libur lainnya, rumah produksi tahu susu lembang mampu memproduksi 3 kali lipat bahkan lebih dari hari biasa.
  1. Teknologi
Ketika kami mengamati area rumah produksi tahu susu lembang, tidak banyak kami temukan teknologi canggih dalam proses pengolahan dan produksi. Hanya saja dalam proses penggilingan memakai mesin giling bermesin sehingga mudah dan cepat dalam membantu proses menggiling kedelai.
  1. Kendala
Tahu susu lembang mempunyai kendala dari permodalan.

  1. Cara Pemasaran
Tahu susu lembang melakukan pemasaran produknya melalu berbagai media promosi yang ada. Baik media cetak, elektronik maupun media sosial.
  1. Kendala Pemasaran
Dalam memasarkan produknya tahu susu lembang menemui kendala pemasaran berupa biaya pemasaran melalui media cetak ataupun media elektronik yang relative mahal.
  1. Luas Area Distribusi
Luas area distribusi tahu susu lembang masih sekitar Kota Bandung dan sekitarnya saja. Lalu kang Perry mendistribusikan tahu susu lembangnya juga ke outlet usaha miliknya seperti All About Strawberi, Rumah Sosis, The Rain’s, Bali Heaven dan Kampung Bakso.
  1. Perkembangan Omzet
Dalam bisnis tahu susu ini, kang Perry mendapatkan omzet berkisar antara Rp.100.000.000 hingga Rp.150.000.000 perhari atau berlipat ganda penghasilannya ketika weekend atau hari libur lainnya.
  1. Jumlah Karyawan
Jumlah karyawan yang bekerja di tempat ini sebanyak 50 orang karyawan.
  1. Kendala Umum Perusahaan
Dalam melakukan usahanya ini, Kang Perry mendapatkan beragam kendala mulai dari pendistribusian yang kadang terhambat serta tahu susu yang di produksinya tidak tahan terlalu lama karena ia tidak memberikan tambahan pengawet pada tahu susunya. Tapi Kang Perry sangat  menjamin dari segi gizi, kebersihan dan kualitas tahunya ini.
Umumnya tahu susu lembang mampu bertahan selama 2 hari dalam keadaan suhu ruangan normal serta 3 hari dalam lemari es. Jika lebih dari waktu tersebut maka Kang Perry tidak bisa menjamin bahwa tahu susu lembangnya masih layak atau tidak untuk di konsumsi.
  1. Kiat-Kiat Usaha
Kiat usaha yang dapat diperoleh disini adalah kita harus mampu memanfaatkan segala potensi yang ada serta tetap menjaga kualitas dan mutu agar konsumen merasa puas dengan produk yang kita hasilkan.


B. C59 (PT Caladi Lima Sembilan)

a.      Profile/Sejarah
Nama besar C59 berawal dari sebuah rumah di Jalan Caladi No 59. Kesuksesan C59 adalah buah dari tekad seorang Marius Widyarto Wiwied yang lebih akrab di panggil Wiwied dengan memulai usaha di bidang kaos/t-shirt pada 12 Oktober 1980 lalu.
Pada 1980 merupakan tahun pertama untuk Marius Widyarto Wiwid atau yang biasa disapa Wiwid. Uang kado pernikahannya, yang kala itu sekira Rp.5.000.000, dibelikannya satu mesin jahit dan dua mesin obras sebagai modal usaha. Usaha tersebut dimulai dengan dana yang minim serta setiap pekerjaannya ini hanya dibantu istri dan pembantunya.
Ide Wiwid untuk membuat produknya berbeda dengan produk yang lainnya adalah dengan menciptakan teknik menyablon dengan sablon karet dan ketika itu pun sablon karet langsing booming. Karena dengan sablon karet, sablon tidak mudah pudar dan hilang. Hal itulah yang juga menjadi salah satu poin nilai jual dalam bisnisnya.
Bersamaan dengan dibangunnya toko retail (showroom) yang pertama di Jalan Tikukur nomor 10. Pada 1990, C59 semakin berkembang dengan membangun pabrik dan fasilitas modern. Tahun 1994 C59 resmi berdiri sebagai perseroan terbatas (PT) dengan Marius Widyarto Wiwid sebagai direktur utama. 

b.      Visi & Misi

Visi C59 adalah sebagai clothing yang menyediakan produk-produk untuk semua umur dan memiliki kualitas yang baik. 

Misi C59 adalah produk C59 dapat diterima oleh masyarakat dan C59 dapat dikenal oleh masyarakat dibandingkan dengan pesaing lainnya.

c.      Lokasi
Head Office :
                      Jl. Merak No.2 Bandung
                      Telp : 022-2505959,
                       Fax : 022-2500124
                      Email : c59bdg@c59.co.id
Factory :
Jl. Cigadung Raya Timur No.107 Bandung
Telp : 022-2506640
Fax : 022-2501159
Email : c59produksi@c59.co.id
Branch :
C59 Jakarta
Dutamas Fatmawati  Blok B1/32
Jl. RS Fatmawati No.39 Jakarta 12150
Telp : 021-7254414
Fax : 021-72791271
Email : c59jakarta@c59.co.id / c59jakarta@yahoo.com
            C59 Yogyakarta
Jl. Kesehatan B-52 Sendowo Gondokusuman, Yogyakarta
Telp & Fax : 0274-586825
Email : c59yogyakarta@c59.co.id
 
d.      Kapasitas Produksi
Membahas mengenai jumlah produksi dan permintaan terhadap kaos produksi C59 , Dalam sebulan, produsen C59 dapat memproduksi sekitar 60 ribu pieces kaos, dengan rata – rata jumlah permintaan sekitar 40 ribu pieces, dan harga yang ditawarkan adalah Rp60 ribu / pieces. 

e.      Teknologi
Teknologi yang digunakan sudah terbilang cukup canggih dengan menggunakan mesin jahit, mesin obras dan pembuatan design sablon.

f.        Kendala
Kendala yang didapatkan Marius Widyarto Wiwied permintaan dari konsumen meningkat namun C59 belum mampu untuk memenuhi permintaan tersebut karena terkendala dari segi modal usaha dan tempat usaha.

g.      Cara Pemasaran
Dalam menjalankan usahanya Wiwied melakukan strategi pemasaran dengan membangun relasi serta melakukan promosi usaha dalam berbagai media yang ada seperti cetak, elektronik dan social media. 

h.      Kendala Pemasaran
Terkadang dalam melakukan pemasaran tersebut ia menemukan berbagai kendala seperti mahalnya biaya promosi baik di media cetak maupun media elektronik.

i.        Luas Area Distribusi
Dalam perkembangan dan kelangsungan bisnisnya, C59 melakukan ekspansi bisnis dan mendistribusikan produknya ke beberapa kota di tanah air bahkan yang membanggakan C59 mampu mengekspor produknya hingga Eropa.
Selain itu C59 juga membuka toko sendiri lalu bekerjasama dengan Ramayana department store dan Matahari department store serta galeri distro dan clothing yang ada di Bandung untuk menyalurkan serta menjual produknya baik didalam ataupun luar kota Bandung.

j.         Perkembangan Omzet
Ketika ditanyakan mengenai omzet usahanya, Wiwied enggan untuk berkomentar, dia menganggap bahwa hal tersebut merupakan privasi perusahaan dan tidak terlalu penting juga untuk public mengetahuinya.

k.      Jumlah Karyawan
Saat ini C59 mempekerjakan sekitar 1500 orang karyawan yang tersebar di 3 pabrik produksinya

l.         Kendala Umum Usaha
Wiwied mengaku dirinya sempat kesulitan untuk mendapatkan modal agar usahanya bisa diperbesar. Namun berkat kegigihan Wiwied dalam membangun relasi. Wiwied pun berhasil menggandeng sebuah bank swasta yang bisa memberinya kucuran dana untuk mengokohkan nama C59 tetap eksis hingga kini.

m.    Kiat-Kiat Usaha
Wiwied berpesan dan memberikan kiat usaha kepada peserta KKL agar menanamkan Tekad, keberanian, kreatifitas dan keyakinan serta jangan ragu untuk membangun relasi terhadap siapapun dan yang terpenting adalah selalu bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa agar usaha yang kita lakukan berjalan dengan maksimal dan mendapatkan profit yang maksimal juga tentunya


III. KESIMPULAN DAN SARAN
                  Setelah mengikuti kegiatan KKL, dapat diambil kesimpulan bahwa acara dapat berjalan dengan tertib dan menyenangkan berkat kerja keras dari panitia. Setelah mengikuti kegiatan ini penulis mendapatkan 2 inspirasi usaha dari 2 narasumber wirausahawan sukes di kota Bandung.
                  Dengan inspirasi usaha yang penulis dapatkan, penulis berharap agar penulis dapat mengaplikasikan inspirasi tersebut dalam kehidupan penulis sehari-hari.
            Pada kesempatan ini penulis ingin memberikan kritik dan saran untuk panitia acara kegiatan KKL (Kunjungan Kerja Lapangan) yang diharapkan untuk kedepannya semakin lebih baik dan lebih profesional dalam menyelenggarakan acara.
            Ada beberapa poin yang ingin penulis kemukakan, diantaranya adalah penulis mengkritik dalam hal pemilihan wisata belanja dan kuliner , karena ketika kita semua peserta KKL diberikan kesempatan untuk berwisata belanja dan kuliner, penulis beranggapan bahwa tempat yang dipilih oleh panitia yaitu Bali Heaven tidak sesuai dengan keingingan serta harapan dari peserta KKL untuk berwisata belanja dan kuliner. Dengan ‘kantong’ mahasiswa yang tipis tentu harga produk yang ada disana tidak terjangkau bagi kalangan mahasiswa. Sehingga banyak dari peserta merasa boring karena tidak dapat menyalurkan gairah berwisata belanja dan kuliner mereka di kota Bandung.
            Lalu penulis menyarankan kepada panitia acara untuk nantinya pada acara yang akan diselenggarakan agar melihat dan memperhatikan tempat-tempat wisata belanja serta kuliner sesuai dengan apa yang diharapkan dan diinginkan oleh peserta acara, sehingga timbul kesan-kesan dan kesenangan tersendiri bagi para peserta. Terima kasih.



IV. LAMPIRAN

A.     Foto-foto 
      * Tahu Susu Lembang
Gambar 1. Rumah Produksi Tahu Susu Lembang



Gambar 2. Tahu Susu Bandung

Gambar 3. Bahan-Bahan Yang Dibutuhkan
Gambar 4. Proses Produksi Tahu Susu
       * C59

Gambar 5. Marius Widyarto Wiwied Berfoto Bersama Mahasiswa Gunadarma
Gambar 6. Proses Produksi C59

Gambar 7. Proses Produksi C59
Gambar 8. Kuliah Lapangan di C59































 
 
  





Gambar 9. Proses Produksi C59


A.     Ide Usaha
Setelah mengikuti kegiatan kunjungan kerja lapangan ini,  penulis mendapatkan inspirasi/ide usaha dengan kategori usaha mikro, kecil dan menengah. Ide usaha yang penulis dapat adalah sebagai berikut:

1. Sudah umum dan sudah banyak olahan susu kedelai yang dihasilkan dari prosespembuatan tahu dibuat dengan rasa orisinil. Umumnya pelaku usaha di industri ini hanya memadukan segarnya susu kedelai dengan gula.
    
    Dengan rasanya yang orisinil, banyak dari konsumen atau masyarakat yang tidak sukadan tidak tertarik untuk menkonsumsi susu kedelai ini. Maka dari itu lah di perlukan sebuah ide cemerlang untuk mengolah lebih lanjut susu kedelai ini.

    Susu kedelai yang banyak di konsumsi di masyarakat luas biasanya di sajikan di pagiatau sore hari dengan kondisi susu kedelai yang segar dan fresh. Konon katanya kesegaran dan freshnya susu kedelai tersebut mampu menghilangkan dahaga dan dapat menyehatkan tubuh.

    Saya mendapatkan ide usaha untuk mengolah lebih jauh tentang susu kedelai ini agarbisa diterima semua kalangan baik yang tadinya suka ataupun yang tidak suka dengan susu kedelai.

   Pengolahan susu kedelai murni menjadi susu kedelai beraneka rasa tentunya mengandung nilai plus dari segi rasa. Pengolahan susu kedelai yang dicampurkan dengan perasa buah-buahan sepertinya menarik dan sangat berpotensi pada larisnya susu kedelai ini dengan rasanya yang unik.

      Pada dasarnya pengolahan susu kedelai beraneka rasa buah ini sama seperti
    pengolahan susu sapi beraneka rasa, sudah kita kenal bersama ’Cimory’ mampu mengubah cita rasa susu sapi murni menjadi susu sapi berbagai rasa seperti coklat, strawberi, melon dan lain lain.

    Susu kedelai di campurkan dengan perasa buah-buahan di sebuah wadah. Lalu diaduk merata yang nanti dengan sendirinya susu kedelai dan perasa buah tersebut pun tercampur dan saling menyatu sehingga menimbulkan cita rasa yang enak dan unik.

      Sepertinya untuk memulai bisnis ini tidak memerlukan modal yang terlalu banyak, kita dapat bekerjasama dengan produsen tahu agar sari susu kedelai yang dihasilkannya dari produksi tahu dapat dimanfaatkan oleh kita. Sehingga dengan begitu kita tidak memerlukan peralatan yang berlebih untuk mengolah kedelai menjadi susu kedelai ini. 

    Maka dari itulah sepertinya ide usaha saya ini dapat dijalankan dengan baik oleh berbagai kalangan seperti kalangan rumah tangga dan mahasiswa tentunya.

2.   Banyaknya lembaga pendidikan di kota Bogor menjadikan potensi berwirausaha di bisnis kaos sablon yang bertemakan lembaga pendidikan tersebut sangat potensial sebagai bisnis di industri kreatif dan grafis.
     
     Menawarkan produk dengan desain gambar yang artisktik dan futuristik menjadikan nilai lebih dari bisnis ini, dengan memanfaatkan keterampilan grafis serta keterampilan pemasaran dengan baik, akan di pastikan bisnis ini menghasilkan pundi-pundi rupiah yang maksimal bagi pelaku usaha itu sendiri.

     Menjelang perpisahan sekolah menengah atas (SMA) biasanya anak-anak sekolahan
    membuat suatu kenang-kenangan antar teman seangkatan dan sekolah, biasanya mereka membuat kaos bergambar bertemakan sekolah mereka dengan tujuan agar mereka selalu merasa dekat dan mengingatkan mereka pada sekolah.

     Dapat diambil contoh salah satu sekolah swasta di kota Bogor, jumlah keseluruhan siswa/i kelas XII di sekolah tersebut berjumlah 178 orang, dengan market yang banyak itulah bisnis ini dapat masuk ke dalamnya dengan menawarkan jasa pembuatan kaos bergambar.

     Rata-rata total biaya produksi satu kaos bersablon adalah Rp.45.000, ketika 178 x Rp.45.000 = Rp.8.010.000 . Dari sana harga satu kaos bersablon dapat produsen jual seharga Rp.55.000. Dan dari hasil penjualan itulah produsen mampu mendapatkan untung atau laba sekitar Rp.1.780.000 . wow sebuah bisnis yang menguntungkan ya !

     Contoh yang diberikan diatas adalah dengan sample satu sekolah saja, jika di kota Bogor terdapat ribuan sekolah, bisa dibayangkan berapa besar potensi dan peluang usaha dari bisnis kreatif ini yang begitu menjanjikan.


Dari ide bisnis yang dituangkan penulis diatas, diharapkan mampu membantu upaya pemerintah untuk mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran di tanah air dengan merintis dunia usaha di kategori usaha mikro, kecil dan menengah. Serta mempekerjakan mereka-mereka yang belum punya pekerjaan agar nantinya mampu memperbaiki taraf kualitas hidupnya.

Semua ide bisnis yang penulis ungkapkan disini tidak dapat berjalan dengan baik jika pihak-pihak yang ada dan berkaitan didalamnya tidak bersinergi dalam berbagai hal. Selain itu dibutuhkan keterampilan khusus dalam menjalankan ide bisnis yang penulis tuangkan. Seperti keterampilan dalam mengolah bahan makanan dan keterampilan seni grafis. Agar produk yang dihasilkan berjalan sesuai harapan dan kualitas produk pun sangat baik sehingga konsumen merasa puas dengan produk yang dihasilkan.

Maka dari itulah dibutuhkan terobosan yang mutakhir untuk memberdayakan mahasiswa dalam pemanfaatan ide bisnis tersebut, Universitas Gunadarma melalui program diploma 3 bisnis dan kewirausahaan menyediakan dana bergulir bagi mahasiswanya di setiap tahun, dari dana bergulir yang disediakan itulah mahasiswa dapat memanfaatkan ide bisnis ini sebagai kegiatan bisnis kewirausahaan yang akan dilakukan.

Tulisan ini memperlihatkan seberapa besar potensi besar bagi seorang wirausaha untuk sukses berwirausaha dalam bidang kuliner dan industri kreatif yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Indonesia terus membutuhkan ide-ide kreatif dan inovatif dari seluruh masyarakat untuk terus berkembang menjadi lebih baik ke depan.



 
 
 
 

Kamis, 03 November 2011

BARANG PUBLIK DAN EKSTERNALITAS

PENDAHULUAN

Kata Pengantar

            Pembelajaran Ekonomika terutama diperguruan tinggi bertujuan untuk memampukan pembelajar memahami ilmu ekonomi untuk berbagai keperluan dalam berbagai konteks dengan tepat dan wajar. Oleh karena itu pembelajaran dipusatkan pada aktifitas yang mengharuskan pembelajar melatih kemampuan dalam bidang ekonomi dengan baik dan benar.

            Tulisan ini disusun dan dibuat berdasarkan tugas kelompok mata kuliah Ekonomika yang ditugaskan oleh Ibu Sri Rahayu, dosen Ekonomika Universitas Gunadarma Indonesia.

            Tujuan utama dari artikel ini adalah untuk membagi dan sharing ilmu serta pengetahuan ilmu ekonomi utamanya mengenai “Barang Publik dan Eksternalitas” yang semuanya itu dielaborasi dan dikolaborasikan oleh penyusun berdasarkan dari berbagai sumber yang ada.

            Akhirnya, semoga tulisan ini ada manfaatnya dan dapat menjadi referensi atau ilmu yang dapat diterima dan dipergunakan bagi pembaca. Kritik dan saran pembaca akan sangat penulis hargai.
                                                        
                                                                                                         Depok, November 2011


                                                                                                                     Penyusun 

BARANG PUBLIK DAN EKSTERNALITAS

EKSTERNALITAS

Dalam suatu perekonomian moderen, setiap aktivitas mempunyai keterkaitan dengan aktivitas lainnya. Apabila semua keterkaitan antara suatu kegiatan dengan kegiatan lainnya dilaksanakan melalui mekanisme pasar atau melalui suatu sistem, maka keterkaitan antar berbagai aktivitas tersebut tidak menimbulkan masalah. Akan tetapi banyak pula keterkaitan antar kegiatan yang tidak melalui mekanisme pasar sehingga timbul berbagai macam masalah. Keterkaitan suatu kegiatan dengan kegiatan lain yang tidak melalui mekanisme pasar adalah apa yang disebut dengan eksternalitas.

Secara umum dapat dikatakan bahwa eksternalitas adalah suatu efek samping dari suatu tindakan pihak tertentu terhadap pihak lain, baik dampak yang menguntungkan maupun yang merugikan. Dalam literatur asing, efek samping mempunyai istilah seperti : external effects, externalities, neighboorhood effects, side effects, spillover effects (Sudgen and williams, 1990, Mishan 1990, Zilberman and marra, 1993). Efek samping dari suatu kegiatan atau transaksi ekonomi bisa positif (positive external effects, external economic) maupun negatif (negative external effects, external diseconomic). Dalam kenyataannya, baik dampak negatif maupun efek positif bisa terjadi secara bersamaan dan simultan. Dampak yang menguntungkan misalnya seseorang yang membangun sesuatu pemandangan yang indah dan bagus pada lokasi tertentu mempunyai dampak positif bagi orang sekitar yang melewati lokasi tersebut. Sedangkan dampak negatif misalnya polusi udara, air dan suara.

Ada juga eksternalitas yang dikenal sebagai eksternalitas yang berkaitan dengan uang (pecuniary externalities) yang muncul ketika dampak eksternalitas itu disebabkan oleh meningkatnya harga. Misalnya, suatu perusahaan didirikan pada lokasi tertentu atau kompleks perumahan baru dibangun, maka harga tanah tersebut akan melonjak tinggi. Meningkatnya harga tanah tersebut menimbulkan dampak external yang negatif terhadap konsumen lain yang ingin membeli tanah disekitar daerah tersebut.

A. JENIS-JENIS EKSTERNALITAS

Efisiensi alokasi sumber daya dan distribusi konsumsi dalam ekonomi pasar dengan kompetisi bebas dan sempurna bisa terganggu, jika aktivitas dan tindakan individu pelaku ekonomi baik produsen maupun konsumen mempunyai dampak (externality) baik terhadap mereka sendiri maupun terhadap pihak lain. Eksternalitas itu dapat terjadi dari empat interaksi ekonomi berikut ini (Pearee dan Nash, 1991; Bohm, 1991) :

1. Efek atau dampak satu produsen terhadap produsen lain (effects of producers on other producers)

2. Efek atau dampak samping kegiatan produksi terhadap konsumen (effects of producers on consumers)

3. Efek atau dampak dari suatu konsumen terhadap konsumen lain (effects of consumers on consumers)

4. Efek akan dampak dari suatu konsumen terhadap produsen (effects of consumers on producers)

1. Dampak Suatu Produsen Terhadap Produsen Lain

Suatu kegiatan produksi dikatakan mempunyai dampak eksternal terhadap produsen lain jika kegiatannya itu mengakibatkan terjadinya perubahan atau penggeseran fungsi produksi dari produsen lain. Dampak atau efek yang termasuk dalam kategori ini meliputi biaya pemurnian atau pembersihan air yang dipakai (eater intake clen-up costs) oleh produsen hilir (downstream producers) yang menghadapi pencemaran air (water polution) yang diakibatkan oleh produsen hulu (upstream producers). Hal ini terjadi ketika produsen hilir membutuhkan air bersih untuk proses produksinya. Dampak kategori ini bisa dipahami lebih jauh dengan contoh lain berikut ini. Suatu proses produksi (misalnya perusahaan pulp) menghasilkan limbah-residu-produk sisa yang beracun dan masuk ke aliran sungai, danau, atau semacamnya, sehingga produksi ikan terganggu dan akhirnya merugikan produsen lain yakni para penangkap ikan (nelayan). Dalam hal ini, kegiatan produksi pulp tersebut mempunyai dampak negatif terhadap produksi lain (ikan) atau nelayan, dan inilah yang dimaksud dengan efek suatu kegiatan produksi terhadap produksi komoditi lain.

2. Dampak Produsen Terhadap Konsumen

Suatu produsen dikatakan mempunyai ekternal efek terhadap konsumen, jika aktivitasnya merubah atau menggeser fungsi utilitas rumahtangga (konsumen). Dampak atau efek samping yang sangat populer dari kategori kedua yang populer adalah pencemaran atau polusi. Kategori ini meliputi polusi suara (noise), berkurangnya fasilitas daya tarik alam (amenity) karena pertambangan, bahaya radiasi dari stasiun pembangkit (polusi udara) serta polusi air, yang semuanya mempengaruhi kenyamanan konsumen atau masyarakat luas. Dalam hal ini, suatu agen ekonomi (perusahaan-produsen) yang menghasilkan limbah (wasteproducts) ke udara atau ke aliran sungai mempengaruhi pihak dan agen lain yang memanfaatkan sumber daya alam tersebut dalam berbagai bentuk. Sebagai contoh, kepuasan konsumen terhadap pemanfaatan daerah-daerah rekreasi akan berkurang dengan adanya polusi udara.

3. Dampak Konsumen Terhadap Konsumen Lain

Dampak konsumen terhadap konsumen yang lain terjadi jika aktivitas seseorang atau kelompok tertentu mempengaruhi atau menggangu fungsi utilitas konsumen yang lain. Konsumen seorang individu bisa dipengaruhi tidak hanya oleh efek samping dari kegiatan produksi tetapi juga oleh konsumsi oleh individu yang lain. Dampak atau efek dari kegiatan suatu seorang konsumen yang lain dapat terjadi dalam berbagai bentuk. Misalnya, bisingnya suara alat pemotong rumput tetangga, kebisingan bunyi radio atau musik dari tetangga, asap rokok seseorang terhadap orang sekitarnya dan sebagainya.

4. Dampak Konsumen Terhadap Produsen

Dampak konsumen terhadap produsen terjadi jika aktivitas konsumen mengganggu fungsi produksi suatu produsen atau kelompok produsen tertentu. Dampak jenis ini misalnya terjadi ketika limbah rumahtangga terbuang ke aliran sungai dan mencemarinya sehingga menganggu perusahaan tertentu yang memanfaatkan air baik oleh ikan (nelayan) atau perusahaan yang memanfaatkan air bersih.

Lebih jauh Baumol dan Oates (1975) menjelaskan tentang konsep eksternalitas dalam dua pengertian yang berbeda :

1. Eksternalitas yang bisa habis (a deplatable externality) yaitu suatu dampak eksternal yang mempunyai ciri barang individu (private good or bad) yang mana jika barang itu dikonsumsi oleh seseorang individu, barang itu tidak bisa dikonsumsi oleh orang lain.

2. Eksternalitas yang tidak habis (an udeplatable externality) adalah suatu efek eksternal yang mempunyai ciri barang publik (public goods) yang mana barang tersebut bisa dikonsumsi oleh seseorang, dan juga bagi orang lain. Dengan kata lain, besarnya konsumsi seseorang akan barang tersebut tidak akan mengurangi konsumsi bagi yang lainnya.

Dari dua konsep eksternalitas ini, eksternalitas jenis kedua merupakan masalah pelik dalam ekonomi lingkungan. Keberadaan eksternalitas yang merupakan barang publik seperti polusi udara, air, dan suara merupakan contoh eksternalitas jenis yang tidak habis, yang memerlukan instrumen ekonomi untuk menginternalisasikan dampak tersebut dalam aktivitas dan analisa ekonomi.

B. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB EKSTERNALITAS

Eksternalitas timbul pada dasarnya karena aktivitas manusia yang tidak mengikuti prinsip-prinsip ekonomi yang berwawasan lingkungan. Dalam pandangan ekonomi, eksternalitas dan ketidakefisienan timbul karena :
  • salah satu atau lebih dari prinsip-prinsip alokasi sumber daya yang efisien tidak terpenuhi. Karakteristik barang atau sumber daya publik,
  • ketidaksempurnaan pasar.
  • kegagalan pemerintah merupakan keadaan-keadaan dimana unsur hak pemilikan atau pengusahaan sumber daya (property rights) tidak terpenuhi.
Sejauh semua faktor ini tidak ditangani dengan baik, maka eksternalitas dan ketidakefisienan ini tidak bisa dihindari. Kalau ini dibiarkan, maka ini akan memberikan dampak yang tidak menguntungkan terhadap ekonomi terutama dalam jangka panjang. Bagaimana mekanisme timbulnya eksternalitas dan ketidakefisienan dari alokasi sumber daya sebagai akibat dari adanya faktor diatas diuraikan satu per satu berikut ini.

BARANG PUBLIK

Barang publik (public goods) adalah barang yang apabila dikonsumsi oleh individu tertentu tidak akan mengurangi konsumsi orang lain akan barang tersebut. Selanjutnya, barang publik sempurna (pure public good) didefinisikan sebagai barang yang harus disediakan dalam jumlah dan kualitas yang sama terhadap seluruh anggota masyarakat.

Kajian ekonomi sumber daya dan lingkungan salah satunya menitikberatkan pada persoalan barang publik atau barang umum ini (common consumption, public goods, common property resources). Ada dua ciri utama dari barang publik ini.
  1. barang ini merupakan konsumsi umum yang dicirikan oleh penawaran gabungan (joint supply) dan tidak bersaing dalam mengkonsumsinya (non-rivalry in consumption).
  2. tidak ekslusif (non-exclusion) dalam pengertian bahwa penawaran tidak hanya diperuntukkan untuk seseorang dan mengabaikan yang lainnya. Barang publik yang berkaitan dengan lingkungan meliputi udara segar, pemandangan yang indah, rekreasi, air bersih, hidup yang nyaman dan sejenisnya.

Satu-satunya mekanisme yang membedakannya adalah dengan menetapkan harga (nilai moneter) terhadap barang publik tersebut sehingga menjadi bidang privat (dagang) sehingga benefit yang diperoleh dari harga itu bisa dipakai untuk mengendalikan atau memperbaiki kualitas lingkungan itu sendiri. Tapi dalam menetapkan harga ini menjadi masalah tersendiri dalam analisa ekonomi lingkungan. Karena ciri-cirinya diatas, barang publik tidak diperjualbelikan sehingga tidak memiliki harga, barang publik dimanfaatkan berlebihan dan tidak mempunyai insentif untuk melestarikannya. Masyarakat atau konsumen cenderung acuh tak acuh untuk menentukan harga sesungguhnya dari barang publik ini. Dalam hal ini, mendorong sebagain masyarakat sebagai “free rider”.

Sebagai contoh, jika si A mengetahui bahwa barang tersebut akan disediakan oleh si B, maka si A tidak mau membayar untuk penyediaan barang tersebut dengan harapan bahwa barang itu akan disediakan oleh si B, maka si A tidak mau membayar untuk penyediaan barang tersebut dengan harapan bahwa barang itu akan disediakan oleh si B. Jika akhirnya si B berkeputusan untuk menyediakan barang tersebut, maka si A bisa ikut menikmatinya karena tidak seorangpun yang bisa menghalanginya untuk mengkonsumsi barang tersebut,

karena sifat barang publik yang tidak ekslusif dan merupakan konsumsi umum. Keadaan seperti ini akhirnya cenderung mengakibatkan berkurangnya insentif atau rangsangan untuk memberikan kontribusi terhadap penyediaan dan pengelolaan barang publik. Kalaupun ada kontribusi, maka sumbangan itu tidaklah cukup besar untuk membiayai penyediaan barang publik yang efisien, karena masyarakat cenderung memberikan nilai yang lebih rendah dari yang seharusnya (undervalued).

SUMBER DAYA MILIK BERSAMA

Keberadaan Sumber daya milik bersama (common resources) atau akses terbuka terhadap sumber daya tertentu ini tidak jauh berbeda dengan keberadaan barang publik diatas. Sumber-sumber daya milik bersama, sama halnya dengan barang-barang publik, tidak ekskludabel. Sumber-sumber daya ini terbuka bagi siapa saja yang ingin memanfaatkannya, dan Cuma-Cuma. Namun tidak seperti barang publik, sumber daya milik bersama memiliki sifat bersaingan. Pemanfaatannya oleh seseorang, akan mengurangi peluang bagi orang lain untuk melakukan hal yang sama. Jadi, keberadaan sumber daya milik bersama ini, pemerintah juga perlu mempertimbangkan seberapa banyak pemanfaatannya yang efisien. Contoh klasik tentang bagaimana eksternalitas terjadi pada kasus SDB ini adalah seperti yang diperkenalkan oleh Hardin (1968) yang dikenal dengan istilah Tragedi Barang Umum (the Tragedy of the Commons).

TRAGEDI BARANG UMUM DAN SUMBER DAYA MILIK BERSAMA

Ada satu pelajaran penting yang terkandung dalam kisah Tragedi Barang Umum ini, yakni pada saat seseorang memanfaatkan suatu sumber daya milik bersama, pada saat itu pula ia mengurangi kesempatan bagi orang lain untuk melakukan tindakan serupa. Akibat adanya eksternalitas negatif, pemanfaatan setiap sumber daya milik bersama selalu cenderung berlebihan. Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah dapat menerapkan regulasi atau memberlakukan pajak. Atau, pemerintah bisa mengubah sumber daya milik bersama itu menjadi barang swasta.

Pelajaran dasar ini ternyata sudah diketahui sejak ribuan tahun yang lampau. Filsuf Yunani kuno, Aristoteles, pernah mengutarakan masalah yang terkandung dalam sumber daya milik bersama : “Apa yang diperuntukkan bagi orang banyak, tidak akan dipelihara secara memadai, karena semua orang mengutamakan kepentingannya sendiri dibanding kepentingan orang lain”.

SWASTA TIDAK MAMPU MENYEDIAKAN BARANG-BARANG PUBLIK DAN SUMBER DAYA MILIK BERSAMA

Logika teorema Coase memang meyakinkan, namun tidak selamanya sesuai dengan kenyataan yang ada. Dalam prakteknya, kita tahu bahwa pelaku-pelaku ekonomi swasta/pribadi seringkali gagal memperoleh pemecahan yang efisien, atas suatu masalah yang bersumber dari eksternalitas.

Teorema Coase ternyata hanya berlaku, jika pihak-pihak yang berkepentingan tidak dihadapkan pada kendala untuk mencapai dan melaksanakan kesepakatan. Itu berarti, peluang kesepakatan memang selalu terbuka, namun hal itu tidak selalu bisa diwujudkan. Kesepakatan untuk mengatasi persoalan eksternalitas seringkali gagal dicapai, jika pihak-pihak yang terlibat diharuskan menanggung biaya-biaya transaksi. Yang disebut sebagai biaya-biaya transaksi (transaction costs) adalah berbagai bentuk biaya yang harus dibayar, ketika pihak-pihak yang berkepentingan itu tengah menjalani negoisasi atau tawar menawar. Dalam contoh kasus diatas, umpamakan saja Dick dan Jane berasal dari negara berbeda, sehingga bahasanyapun berbeda. Sekedar untuk bernegosiasi, keduanya harus menyewa penerjemah. Kalau sudah begitu, Dick dan Jane akan enggan melakukan negoisasi, apalagi jika biaya sewa penerjemahnya mahal. Dalam kenyataannya, perusahaan-perusahaan seringkali enggan melakukan negoisasi untuk mengatasi eksternalitas diantara mereka, karena mahalnya ongkos jasa pengacara yang menyusun agenda perundingan atau draft kerjasama.

Kesulitan juga muncul pada tahap pelaksanaan atas suatu kesepakatan. Perjanjian damai antara kedua belah pihak yang berperang, seringkali gugur begitu saja dan perang pun kembali pecah. Jadi, bukan saja bisa muncul pada tahap penyusunan kesepakatan, namun juga pada tahap pelaksanaannya. Salah satu sebabnya adalah, ada saja pihak yang meninginkan posisi lebih baik sekalipun kesepakatan sudah ditetapkan. Pencapaian kesepakatan akan semakin sulit, jika jumlah pihak yang terlibat atau berkepentingan lebih banyak. Ini dikarenakan koordinasi antara banyak pihak itu biasanya memakan biaya yang cukup besar.

Sebagai contoh, ada sebuah pabrik yang mencemari sebuah danau didekatnya. Polusi ini sangat merugikan para nelayan yang mencari nafkah di danau tersebut. Menurut teorema Coase, jika terjadinya polusi itu merupakan suatu kondisi yang tidak efisien, maka pemilik pabrik dan para nelayan akan terdorong merundingkan pemecahannya. Jika kita asumsikan bahwa pabrik itu punya hak legal untuk berpolusinya, solusinya bisa berupa pemberian ganti rugi kepada pabrik agar tidak berpolusi. Namun jika jumlah nelayannya banyak, dan masing-masing punya pendapat atau perhitungan sendiri, maka biaya koordinasinya menjadi begitu mahal, sehingga kemungkinan besar negoisasi antara pabrik dan nelayan tidak dapat dilangsungkan.

Jika penyelesaian swasta gagal, maka pemerintah harus turun tangan. Lagipula, pemerintahan memang merupakan suatu institusi yang sengaja dibentuk, untuk bertindak mewakili kepentingan bersama. Dalam contoh kasus di atas, pemerintah dapat mewakili para nelayan, mengingat mereka sulit bertindak sendiri. Pada bagian pembahasan berikut, kita akan menelaah bagaimana pemerintah dapat mengupayakan pemecahan atas adanya masalah eksternalitas.

Galuh Adhitia Putra
53211000
1DF01
Ekonomika
Kelompok 5 (BAB14)



Senin, 24 Oktober 2011

Ganja Sebagai Sumber Energi Alternatif

I. PENDAHULUAN
Kata Pengantar
            Pembelajaran Ilmu Alamiah Dasar terutama diperguruan tinggi bertujuan untuk memampukan pembelajar menulis ilmiah untuk berbagai keperluan dalam berbagai konteks dengan tepat dan wajar. Oleh karena itu pembelajaran dipusatkan pada aktifitas yang mengharuskan pembelajar melatih kemampuan karya tulis ilmiahnya dengan baik dan benar.
            Tulisan ini disusun dan dibuat berdasarkan tugas karya tulis ilmiah yang ditugaskan oleh Ibu Erma Triwati Christina, dosen ilmu alamiah dasar Universitas Gunadarma, Indonesia.
            Tujuan utama dari artikel ini adalah untuk membagi dan sharing ilmu serta pengetahuan ilmu alamiah dasar utamanya mengenai “Ganja Sebagai Sumber Energi Alternatif”, yang dielaborasi dan dikolaborasikan oleh penulis berdasarkan dari berbagai sumber yang ada.
            Akhirnya, semoga tulisan ini ada manfaatnya dan dapat menjadi referensi atau ilmu yang dapat diterima dan dipergunakan bagi pembaca. Kritik dan saran pembaca akan sangat penulis hargai.
                                                        
                                                                                                         Bogor, Oktober 2011


                                                                                                                        Penulis



II. Ganja Sebagai Sumber Energi Alternatif
Indonesia merupakan salah satu negara pemilik hutan hujan tropis (rainforest) terbesar di dunia. Beragam jenis tanaman yang berpotensi untuk diolah menjadi biofuel, tumbuh berkembang di negara ini. Selain kelapa sawit dan tebu yang sudah lazim dijadikan biofuel ada satu jenis tanaman lain di Indonesia yang berpotensi untuk diolah menjadi bahan bakar, yaitu ganja atau yang dikenal juga sebagai cannabis, marijuana, hemp atau hasish. Walaupun bukan tanaman asli Indonesia, ganja dapat tumbuh dengan baik di hampir seluruh wilayah perbukitan di Aceh. Kualitas ganja Aceh pun sangat terkenal di dunia. Sayangnya, ganja diasosiasikan dengan tanaman yang dapat dihisap daunnya dan membuat mabuk penghisapnya. ganja dimasukkan ke dalam kategori narkotika dan penggunaannya dilarang di banyak negara di dunia, termasuk di Indonesia.

Padahal, dalam beberapa dekade terakhir, banyak peneliti di dunia yang telah mengembangkan penelitian tentang pengolahan ganja menjadi bahan bakar. Ayhan Demirbas, pakar energi dari Turki, dalam bukunya, Green Energy and Technology-Biofuels: Securing the Planet’s Future Energy Needs, memasukkan ganja ke dalam daftar oil species for biofuel production. Ia mengungkapkan bahwa senyawa organik yang terkandung di dalam tanaman ganja dapat digunakan untuk memproduksi biodiesel.

Peneliti lain, Claus Brodersen, Klaus Drescher dan Kevin McNamara, dalam bukunya Economics of Sustainable Energy in Agriculture mengungkapkan bahwa ganja merupakan salah satu tanaman penghasil biomass energy. Biomassa dapat dikonversi menjadi metana, metanol, atau bensin yang biayanya jauh lebih kecil dibandingkan dari biaya saat ini untuk bahan bakar minyak, batu bara, atau energi nuklir.

kemudian Michael Starks, dalam bukunya Marijuana Chemistry: Genetics, Processing and Potency, menerangkan dengan jelas senyawa organik yang terkandung dalam setiap bagian tanaman ganja. Salah satu bagian tanaman ganja yang berpotensi menghasilkan minyak adalah batang tanamannya.

Menurut para ilmuwan di University of Connecticut, Amerika Serikat, cannabis sativa --nama latin ganja-- yang selama ini dianggap sebagai tanaman ilegal ternyata memiliki karakteristik yang menjadikannya layak sebagai bahan baku biodiesel.

Hal tersebut terbukti pada saat uji coba laboratorium yang dilakukan oleh mereka. Efisiensi konversinya mencapai 97% dan jika dibandingkan dengan biodiesel lain yang ada di pasaran saat ini maka biodiesel ganja bisa digunakan pada suhu lebih rendah. Selain itu tanaman tersebut mampu tumbuh di tanah yang tidak subur sehingga tidak mengganggu lahan produktif untuk tanaman pangan.

Ganja telah dikenal lama sebagai tanaman yang memiliki kemampuan untuk tumbuhan liar dan tidak memerlukan perawatan khusus. Orang sudah sejak lama memanfaatkan tanaman rami --atau disebut industrial hemp-- tersebut untuk berbagai keperluan industri dan makanan. Bijinya yang seringkali dibuang setelah tanaman rami untuk industri tersebut dipanen, menurut Richard Parnas --profesor Teknik Kimia, Bahan dan Biomolekuler di University of Connecticut yang memimpin tim ilmuan itu--, memiliki kandungan minyak nabati yang berpotensi sebagai bahan bakar. Meski tanaman tersebut merupakan tanaman ilegal di banyak negara, tetapi menurut profesor Parnas ada perbedaan besar antara industrial hemp dengan ganja lainnya dalam satu keluarga cannabaceae. Ganja yang digunakan untuk industri hanya memiliki kurang dari satu persen zat kimia psychoactive di dalam bunganya, sedangkan jenis lainnya memiliki hingga 22 persen.
Gagasan untuk memanfaatkan ganja sebagai energi alternatif yang murah pengganti minyak dan gas bumi ini menarik karena ganja dapat diubah menjadi “biomassa” yang pada gilirannya diubah menjadi energi. “Biomassa dapat dikonversi menjadi metana, metanol, atau bensin yang biayanya jauh lebih kecil dibandingkan dari biaya saat ini untuk bahan bakar minyak, batu bara, atau energi nuklir,” kata Jack Herer, seorang aktivis ganja dan penulis buku “The Emperor Wears No Clothes.”

III. Kesimpulan
Pada saat ini, Indonesia sedang dilanda krisis energi. Kelangkaan dan ketidakstabilan harga BBM merupakan persoalan yang selalu dihadapi rakyat miskin di Indonesia. Persoalan ini juga dirasakan oleh negara-negara lain di dunia. Berkurangnya cadangan minyak bumi dunia merupakan salah satu penyebab.

Dalam situasi sulit seperti itu, pemerintah Indonesia harus mengambil langkah konkret yang lebih jelas tujuannya, yaitu menyejahterakan rakyat. Tidak hanya menaikkan dan menurunkan harga BBM secara politis sebagaimana yang dilakukan oleh pemerintahan saat ini. Kebijakan politis seperti itu tidak akan menyelesaikan persoalan bangsa.

sudah saatnya pemerintah Indonesia mengembangkan teknologi bahan bakar alternatif. Harapannya, ketergantungan Indonesia terhadap minyak bumi dan batubara dapat teratasi.

bahan bakar bio seharusnya tidak berasal dari bahan pangan ataupun tanaman non pangan yang hanya mampu tumbuh optimal di lahan produktif. Jika demikian halnya maka ganja menjadi pilihan terbaik dibandingkan tanaman lainnya. Karena karakteristik pertumbuhan tanaman ganja dapat tumbuh di hampir semua iklim atau kondisi tanah di bumi, bahkan di wilayah yang kering.

Kalau Setiap setengah hektar lahan ganja dapat menghasilkan 1.000 galon metanol. Bahan bakar dari ganja, maka hanya diperlukan enam persen (6%) dari seluruh wilayah pertanian di benua Amerika untuk memenuhi kebutuhan biomassa dari tanaman ganja yang dapat digunakan sebagai pengganti energi gas/minyak di Amerika dan ini dapat mengakhiri ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Jika ganja mempunyai potensi sebagai bahan bakar bio, maka alih-alih menggunakannya untuk ''menerbangkan'' seseorang, tanaman tersebut akan memberikan manfaat lebih jika digunakan untuk ''menerbangkan'' mobil diesel.

IV. Daftar Pustaka
  • Demirbas Ayhan, “Green Energy and Technology-Biofuels: Securing the Planet’s Future Energy Needs”, Turki
  • Claus Brodersen, Klaus Drescher dan Kevin McNamara, “Economics of Sustainable Energy in Agriculture”, Amerika
  • Starks Michael, “Marijuana Chemistry: Genetics, Processing and Potency”
  • http://www.globalhemp.com/  


Nama : Galuh Adhitia Putra
Npm : 53211000
Kelas : 1DF01


Nama : Billy Clinton Andira
Npm : 59211383
Kelas : 1DF01

    Jumat, 21 Oktober 2011

    Pencemaran Air (Laut) karena Limbah Industri Minyak

    I. PENDAHULUAN
    Kata Pengantar
              Pembelajaran Ilmu Alamiah Dasar terutama diperguruan tinggi bertujuan untuk memampukan pembelajar menulis ilmiah untuk berbagai keperluan dalam berbagai konteks dengan tepat dan wajar. Oleh karena itu pembelajaran dipusatkan pada aktifitas yang mengharuskan pembelajar melatih kemampuan karya tulis ilmiahnya dengan baik dan benar.
              Tulisan ini disusun dan dibuat berdasarkan tugas karya tulis ilmiah yang ditugaskan oleh Ibu Erma Triwati Christina, dosen ilmu lamiah dasar Universitas Gunadarma Indonesia.
              Tujuan utama dari artikel ini adalah untuk membagi dan sharing ilmu serta pengetahuan ilmu alamiah dasar utamanya mengenai “ Pencemaran Air (Laut) karena Limbah Industri Minyak”, yang dielaborasi dan dikolaborasikan oleh penulis berdasarkan dari berbagai sumber yang ada.
              Akhirnya, semoga tulisan ini ada manfaatnya dan dapat menjadi referensi atau ilmu yang dapat diterima dan dipergunakan bagi pembaca. Kritik dan saran pembaca akan sangat penulis hargai.
                                                   
                                                                                            Bogor, Oktober 2011


                                                                                                        Penulis



    II. Pencemaran Air (Laut) karena Limbah Industri Minyak

    Limbah minyak adalah buangan yang berasal dari hasil eksplorasi produksi minyak, pemeliharaan fasilitas produksi, fasilitas penyimpanan, pemrosesan, dan tangki penyimpanan minyak pada kapal laut. Limbah minyak bersifat mudah meledak, mudah terbakar, bersifat reaktif, beracun, menyebabkan infeksi, dan bersifat korosif. Limbah minyak merupakan bahan berbahaya dan beracun (B3), karena sifatnya, konsentrasi maupun jumlahnya dapat mencemarkan dan membahayakan lingkungan hidup, serta kelangsungan hidup manusia dan mahluk hidup lainnya.



    Pada umumnya, pengeboran minyak bumi di laut menyebabkan terjadinya peledakan (blow aut) di sumur minyak. Ledakan ini mengakibatkan semburan minyak ke lokasi sekitar laut, sehingga menimbulkan pencemaran. Contohnya, ledakan anjungan minyak yang terjadi di teluk meksiko sekitar 80 kilometer dari Pantai Louisiana pada 22 April 2010. Pencemaran laut yang diakibatkan oleh pengeboran minyak di lepas pantai itu dikelola perusahaan minyak British Petroleum (BP). Ledakan itu memompa minyak mentah 8.000 barel atau 336.000 galon minyak ke perairan di sekitarnya.



    Ketika minyak masuk ke lingkungan laut, maka minyak tersebut dengan segera akan mengalami perubahan secara fisik dan kimia. Diantara proses tersebut adalah membentuk lapisan (slick formation), menyebar (dissolution), menguap (evaporation), polimerasi (polymerization), emulsifikasi (emulsification), emulsi air dalam minyak ( water in oil emulsions ), emulsi minyak dalam air (oil in water emulsions), foto oksida, biodegradasi mikorba, sedimentasi, dicerna oleh plankton dan bentukan gumpalan.

    Hampir semua tumpahan minyak di lingkungan laut dapat dengan segera membentuk sebuah lapisan tipis di permukaan. Hal ini dikarenakan minyak tersebut digerakkan oleh pergerakan angin, gelombang dan arus, selain gaya gravitasi dan tegangan permukaan. Beberapa hidrokarbon minyak bersifat mudah menguap, dan cepat menguap. Proses penyebaran minyak akan menyebarkan lapisan menjadi tipis serta tingkat penguapan meningkat.

    Minyak tidak dapat larut di dalam air, melainkan akan mengapung di atas permukaan air, bahan buangan cairan berminyak yang di buang ke air lingkungan akan mengapung menutupi permukaan air. Kalau bahan buangan cairan berminyak mengandung senyawa yang volatile maka akan terjadi penguapan dan luar permukaan minyak yang menutupi permukaan air akan menyusut. Penyusutan luas permukaan ini tergantung pada jenis minyaknya dan waktu lapisan minyak yang menutupi permukaan air dapat juga terdegradasi oleh mikroorganisme tertentu, namun memerlukan waktu yang cukup lama.

    Lapisan minyak di permukaan air lingkungan akan mengganggu kehidupan organisme dalam air. Hal ini disebabkan oleh Lapisan minyak pada permukaan air akan menghalangi difusi oksigen dari udara ke dalam air sehingga jumlah oksigen yang terlarut di dalam air menjadi berkurang. Kandungan oksigen yang menurun akan mengganggu kehidupan hewan air. Adanya lapisan minyak pada permukaan air juga akan menghalangi masuknya sinar matahari ke dalam air sehingga fotosintesis oleh tanaman air tidak dapat berlangsung. Akibatnya, oksigen yang seharusnya dihasilkan pada proses fotosintesis tersebut tidak terjadi. Kandungan oksigen dalam air jadi semakin menurun. Tidak hanya hewan air saja yang terganggu akibat adanya lapisan minyak pada permukaan air tersebut, tetapi burung air pun ikut terganggu karena bulunya jadi lengket, tidak bisa mengembang lagi terkena minyak.

    Selain dari pada itu, air yang telah tercemar oleh minyak juga tidak dapat dikonsumsi oleh manusia karena seringkali dalam cairan yang berminyak terdapat juga zat-zat yang beracun, seperti senyawa benzene, senyawa toluene dan lain sebagainya.


    III. Akibat yang ditimbulkan

    1. Pertumbuhan fitoplankton laut akan terhambat akibat keberadaan senyawa beracun dalam komponen minyak bumi, juga senyawa beracun yang terbentuk dari proses biodegradasi. Jika jumlah fitoplankton menurun, maka populasi ikan, udang, dan kerang juga akan menurun. Padahal hewan-hewan tersebut dibutuhkan manusia karena memiliki nilai ekonomi dan kandungan protein yang tinggi.

    2. Penurunan populasi alga dan protozoa akibat kontak dengan racun slick (lapisan minyak di permukaan air). Selain itu, terjadi kematian burung-burung laut. Hal ini dikarenakan slick membuat permukaan laut lebih tenang dan menarik burung untuk hinggap di atasnya ataupun menyelam mencari makanan. Saat kontak dengan minyak, terjadi peresapan minyak ke dalam bulu dan merusak sistem kekedapan air dan isolasi, sehingga burung akan kedinginan yang pada akhirnya mati.

    3. Rusaknya estetika pantai akibat bau dari material minyak. Residu berwarna gelap yang terdampar di pantai akan menutupi batuan, pasir, tumbuhan dan hewan. Gumpalan tar yang terbentuk dalam proses pelapukan minyak akan hanyut dan terdampar di pantai.

    4. Kerusakan biologis, bisa merupakan efek letal dan efek subletal. Efek letal yaitu reaksi yang terjadi saat zat-zat fisika dan kimia mengganggu proses sel ataupun subsel pada makhluk hidup hingga kemungkinan terjadinya kematian. Efek subletal yaitu mepengaruhi kerusakan fisiologis dan perilaku namun tidak mengakibatkan kematian secara langsung. Terumbu karang akan mengalami efek letal dan subletal dimana pemulihannya memakan waktu lama dikarenakan kompleksitas dari komunitasnya.

    IV. Tindakan pertama yang harus dilakukan

    Tindakan pertama yang dilakukan dalam mengatasi tumpahan minyak yaitu dengan melakukan pemantauan banyaknya minyak yang mencemari laut dan kondisi tumpahan. Ada 2 jenis pemantauan yang dilakukan yaitu dengan pengamatan secara visual dan penginderaan jauh (remote sensing).

    * Pengamatan secara visual
    Pengamatan secara visual merupakan pengamatan yang menggunakan pesawat. Teknik ini melibatkan banyak pengamat, sehingga laporan yang diberikan sangat bervariasi. Pada umumnya, pemantauan dengan teknik ini kurang dapat dipercaya. Sebagai contoh, pada tumpahan jenis minyak yang ringan akan mengalami penyebaran (spreading), sehingga menjadi lapisan sangat tipis di laut. Pada kondisi pencahayaan ideal akan terlihat warna terang. Namun, penampakan lapisan ini sangat bervariasi tergantung jumlah cahaya matahari, sudut pengamatan dan permukaan laut, sehingga laporannya tidak dapat dipercaya.

    * Pengamatan penginderaan jauh
    Metode penginderaan jarak jauh dilakukan dengan berbagai macam teknik, seperti Side-looking Airborne Radar (SLAR). SLAR dapat dioperasikan setiap waktu dan cuaca, sehingga menjangkau wilayah yang lebih luas dengan hasil penginderaan lebih detail. Namun,teknik ini hanya bisa mendeteksi lapisan minyak yang tebal. Teknik ini tidak bisa mendeteksi minyak yang berada dibawah air dalam kondisi laut yang tenang. Selain SLAR digunakan juga teknik Micowave Radiometer, Infrared-ultraviolet Line Scanner, dan Landsat Satellite System. Berbagai teknik ini digunakan untuk menghasilkan informasi yang cepat dan akurat

    V. Penanggulangan

    Ir. Ginting Perdana Dalam bukunya yang berjudul “Sistem Pengelolaan Lingkungan dan Limbah Industri”, menerangkan bahwa pada umumnya, teknik bioremediasi in-situ diaplikasikan pada lokasi tercemar ringan, lokasi yang tidak dapat dipindahkan, atau karakteristik kontaminan yang volatil. Sedangkan Bioremediasi ex-situ merupakan teknik bioremediasi dimana lahan atau air yang terkontaminasi diangkat, kemudian diolah dan diproses pada lahan khusus yang disiapkan untuk proses bioremediasi.
    Beberapa teknik penanggulangan tumpahan minyak diantaranya in-situ burning, penyisihan secara mekanis, bioremediasi, penggunaan sorbent, penggunaan bahan kimia dispersan, dan washing oil.
    • In-situ burning adalah pembakaran minyak pada permukaan laut, sehingga mengatasi kesulitan pemompaan minyak dari permukaan laut, penyimpanan dan pewadahan minyak serta air laut yang terasosiasi. Teknik ini membutuhkan booms (pembatas untuk mencegah penyebaran minyak) atau barrier yang tahan api. Namun, pada peristiwa tumpahan minyak dalam jumlah besar sulit untuk mengumpulkan minyak yang dibakar. Selain itu, penyebaran api sering tidak terkontrol.
    • Penyisihan minyak secara mekanis melalui 2 tahap, yaitu melokalisir tumpahan dengan menggunakan booms dan melakukan pemindahan minyak ke dalam wadah dengan menggunakan peralatan mekanis yang disebut skimmer.
    •  
    • Bioremediasi yaitu proses pendaurulangan seluruh material organik. Bakteri pengurai spesifik dapat diisolasi dengan menebarkannya pada daerah yang terkontaminasi. Selain itu, teknik bioremediasi dapat menambahkan nutrisi dan oksigen, sehingga mempercepat penurunan polutan.
    • Penggunaan sorbent dilakukan dengan menyisihkan minyak melalui mekanisme adsorpsi (penempelan minyak pada permukaan sorbent) dan absorpsi (penyerapan minyak ke dalam sorbent). Sorbent ini berfungsi mengubah fasa minyak dari cair menjadi padat, sehingga mudah dikumpulkan dan disisihkan. Sorbent harus memiliki karakteristik hidrofobik, oleofobik, mudah disebarkan di permukaan minyak, dapat diambil kembali dan digunakan ulang. Ada 3 jenis sorbent yaitu organik alami (kapas, jerami, rumput kering, serbuk gergaji), anorganik alami (lempung, vermiculite, pasir) dan sintetis (busa poliuretan, polietilen, polipropilen dan serat nilon). 
    • Dispersan kimiawi merupakan teknik memecah lapisan minyak menjadi tetesan kecil (droplet), sehingga mengurangi kemungkinan terperangkapnya hewan ke dalam tumpahan minyak. Dispersan kimiawi adalah bahan kimia dengan zat aktif yang disebut surfaktan.
    • Washing oil yaitu kegiatan membersihkan minyak dari pantai.
    VI. Kesimpulan

    Berbagai macam kegiatan industri dan teknologi yang ada saat ini apabila tidak di sertai dengan program pengelolaan air yang baik akan mengakibatkan kerusakan ekosistem yang ada dalam hal ini adalah air, baik secara langsung maupun tidak langsung. Bahan buangan dan air limbah yang berasal dari kegiatan industri adalah penyebab terjadinya pencemaran air.
    Kasus pencemaran air laut akibat dari pengeboran Indusri minyak ditengah laut, tumpahan minyak, kebocoran kapal tanker dan lain-lain. Sehingga dapat berpengaruh pada beberapa sector , diantaranya lingkungan pantai dan laut, ekosistem biota pantai dan laut, dan mengganggu aktivitas nelayan sehingga mempengaruhi kesejahteraan mereka. Pengaruh-pengaruh tersebut antara lain dapat mengubah karakteristik populasi spesies dan struktur ekologi komunitas laut, dapat mengganggu proses perkembangan dan pertumbuhan serta reproduksi organisme laut, bahkan dapat menimbulkan kematian pada organisme laut.

    VII. Daftar Pustaka


    Nama : Galuh Adhitia Putra
    NPM : 53211000
    Kelas : 1DF01